TEXTAREA_ID

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

ISLAM AGAMAKU


Islam : Agamaku

Pengetahuan Umum Agama bagi Anak-Anak
1992 Islam International Publications

Daftar Isi :

1. Islam
2. Lima Rukun Iman
3. Lima Rukun Islam
4. Ahmadiyah – Kebangkitan Islam

ISLAM

T – Apa arti kata ‘Islam’ ?

J – Islam berasal dari suatu kata bahasa Arab yang secara harfiah berarti kepatuhan dan damai. Jadi, ‘Islam’ berarti jalan bagi orang-orang yang patuh kepada Allah dan menegakkan perdamaian dengan Dia dan makhluk-Nya.

T – Disebut apakah seorang pemeluk agama Islam ?

J – Dia disebut Muslim

T – Siapa yang memberikan nama Islam bagi agama kita ?

J – Allah yang memberikan nama Islam bagi agama kita.

T – Dapatkah kamu kutip ayat Al-Quran dimana nama Islam telah dinyatakan bagi agama kita ?

J – Ya. Surah 5 ayat 4, Allah menamakan agama kita sebagai Islam.

T – Apakah hal-hal yang utama dalam Islam ?

J – Islam adalah agama yang sempurna. Ajaran Islam adalah ajaran yang sederhana dan mudah dipraktekkan oleh setiap orang. Islam memberikan alasan-alasan atas setiap perintah dan ajarannya. Al-Quran adalah kalam Allah dan merupakan kitab suci bagi kaum Muslim. Kitab ini sama persisnya dengan apa yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. Allah telah berjanji akan menjaga kitab ini.

LIMA RUKUN IMAN

Saya percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat.

T – Apakah iman itu ?

J – Iman berarti percaya atau yakin. Orang yang yakin/percaya disebut Mukmin.

T – Apakah rukun Iman yang utama dalam Islam ?

J – Berikut ini adalah rukun Iman yang utama dalam Islam :

Percaya kepada Allah yang Esa

Percaya kepada malaikat-malaikat-Nya

Percaya kepada kitab-kitab-Nya

Percaya kepada rasul-rasul-Nya

Percaya kepada Hari Akhirat

Allah

T – Siapakah pencipta alam semesta ini ?

J – Allah yang menciptakan segala sesuatu.

T – Katakan padaku lebih banyak mengenai Allah

J – Allah adalah Maha Esa dan Maha Perkasa. Hanya Dia-lah yang layak untuk disembah. Dia tidak memiliki sekutu. Dia tidak memperanakkan dan tidak pula Dia diperanakkan. Dia adalah Abadi. Dia mendengar dan mengabulkan doa-doa kita. Dia memberi kehidupan dan penyebab kematian. Dia menciptakan kita dalam sebaik-baiknya bentuk. Dia tidak memiliki istri maupun anak. Dia adalah Sempurna. Dia menyayangi kita semua dan memberi ampunan. Dia memiliki pengetahuan atas segala sesuatu. Dia mengirimkan petunjuk-Nya melalui para Nabi-Nya. Dia adalah Rajanya Hari Pembalasan. Tidur dan lalai tidak pernah menguasai-Nya. Dia bukanlah awal maupun akhir. Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat segala sesuatu.

T – Apakah sifat-sifat utama Tuhan ?

J – Ada empat sifat utama-Nya seperti disebutkan dalam surah Al-Fatihah, surat pertama dalam Al-Quran, yaitu : Rabbil-‘Alamiin (Tuhan semesta alam), Ar-Rahmaan (Maha Pemurah), Ar-Rahiim (Maha Penyayang), Malik-I-yauwmiddiin (Yang Empunya Hari Pembalasan).

T – Apakah arti dari susunan kata itu ?

J – Rabbil-‘Alamiin berarti ‘Tuhan semesta alam’, Ar-Rahmaan berarti ‘Maha Pemurah’, Ar-Rahiim berarti ‘Maha Penyayang’, dan Malik-i-yauwmiddiin berarti ‘Yang Empunya Hari Pembalasan’.

T – Bagaimana kita dapat menjalin hubungan dengan Dia ?

J – Dengan mentaati-Nya dan senantiasa berdoa kepada Dia

T – Apakah Allah berbicara kepada orang ?

J – Ya. Dia menjawab doa-doa kita. Barangsiapa yang taat kepada-Nya dan berbuat kebajikan akan diistimewakan dengan diberi pengabulan atas doa-doa mereka.

T – Dalam bahasa apa seharusnya kita berdoa kepada Tuhan ?

J – Seseorang dapat berdoa kepada-Nya dalam bahasa apa saja yang disukainya. Dia mengetahui semua bahasa. Dia adalah Pencipta dari semua bahasa.

T – Dimanakah Allah ?

J – Allah ada dimana-mana. Dia melihat kita setiap saat tetapi kita tidak dapat melihat Dia dengan mata jasmani kita.

Malaikat-malaikat Allah

T – Apakah malaikat itu ?

J – Malaikat-malaikat diciptakan oleh Allah. Mereka adalah makhluk spiritual. Mereka hanya mematuhi perintah-perintah Allah. Mereka berjumlah sangat banyak dan diperintahkan menjalankan berbagai macam tugas oleh Allah. Mereka juga diutus oleh Allah untuk membantu Nabi-Nabi-Nya dan pengikut para Nabi.

T – Sebutkan beberapa nama malaikat Allah yang terpenting

J – Ada empat nama malaikat Allah yang terpenting yaitu : Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail.

T – Apakah kita menyembah malaikat ?

J – Sama sekali tidak. Kita hanya menyembah Allah. Tidak ada satupun atau apapun juga yang patut disembah kecuali Allah.

T – Siapakah nama malaikat yang membawa wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw ?

J – Hazrat Jibril

Kitab-kitab Allah

T – Apakah yang dimaksud dengan kitab-kitab Allah ?

J – Allah memberi petunjuk-Nya kepada manusia dari waktu ke waktu. Petunjuk ini disampaikan kepada umat manusia melalui Nabi-Nabi Allah. Petunjuk itu berisi hukum-hukum bagi kehidupan kita sehari-hari. Hukum dan peraturan ini disebut Kitabullah. Kita harus percaya pada semua kitab Allah.

T – Kitab-kitab apa yang diketahui oleh kita ?

J – Kitab-kitab yang dikenal dengan baik adalah sebagai berikut : Al-Quran adalah kitab yang terakhir dan sempurna. Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Suci Muhammad saw. Al-Quran diwahyukan selama 23 tahun sedikit demi sedikit. Taurat diberikan kepada Nabi Musa (Moses) as. Mazmur atau Zabur diberikan kepada Nabi Daud (David) as. Perjanjian Baru atau Injil diberikan kepada Nabi Isa (Yesus) as. Mushaf diberikan kepada Nabi Ibrahim (Abraham) as.

T – Apakah kandungan utama dari Al-Quran ?

J – Al-Quran adalah suatu kitab petunjuk bagi kita semua. Setiap kata dalam Al-Quran adalah perkataan Allah. Al-Quran tetap terpelihara seperti bentuk aslinya sebagaimana janji Allah atas kemurnian Al-Quran (15:10). Al-Quran terpelihara dalam ingatan (memori) Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya ra. Selalu ada ribuan orang di setiap masa yang belajar dan mengingat seluruh isi Al-Quran dengan hatinya. Praktek seperti itu masih terus berlanjut sampai sekarang. Al-Quran adalah dalam bahasa Arab. Karakteristik dan bahasa Al-Quran sangat bermutu. Al-Quran telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk Indonesia. Al-Quran mengandung banyak nubuatan (ramalan) mengenai masa depan manusia dan juga merupakan suatu peraturan yang lengkap bagi tingkah laku kita. Barangsiapa yang mengikuti Al-Quran dapat menjadi orang yang berhasil dalam hidupnya. Kita wajib membaca dan merenungkan arti Al-Quran sesering mungkin sehingga kita dapat meraih keberhasilan dalam hidup kita. Al-Quran memiliki 114 surah dan terbagi dalam 30 juz.

T – Apakah akan ada kitab-kitab lain setelah Al-Quran yang akan membatalkan beberapa atau seluruh ajaran Al-Quran ?

J – Tidak ada sama sekali. Al-Quran adalah kitab yang paling lengkap dan sempurna. Tidak diperlukan lagi bagi manusia untuk mencari sesuatu yang lainnya karena Al-Quran memberikan petunjuk bagi segala aspek kehidupan. Al-Quran adalah kitab yang hidup dan akan selalu seperti itu selamanya.

T – Apakah ada saat ini kitab-kitab lain yang diwahyukan yang masih dalam bentuk aslinya ?

J – Tidak ada. Semua kitab-kitab itu telah berubah sebagian karena perbuatan para pengikutnya dan kitab-kitab itu bukanlah kitab yang asli. Beberapa kitab tidak lagi memiliki bahasa aslinya, seperti kitab Perjanjian Baru. Kita hanya dapat percaya bahwa kenyataannya kitab-kitab itu dalam bentuk aslinya mengandung pesan dari Allah, namun saat ini versi yang ada pada kitab-kitab itu selalu terbuka untuk dikritik.

Nabi-Nabi Allah

T – Siapakah Nabi itu ?

J – Dalam bahasa Arab ada dua kata digunakan untuk seorang Nabi. Rasul berarti ‘seorang pesuruh’ atau ‘utusan’, dan Nabi berarti ‘seseorang yang menerima dan menyampaikan Perintah Ilahi’. Kedua kata ini digunakan bagi orang yang dipilih oleh Allah untuk melakukan reformasi dan memberi petunjuk bagi manusia.

T – Sebutkan beberapa karakteristik dari seorang Nabi.

J – Para Nabi dipilih oleh Allah dari antara manusia. Mereka disiapkan sebagai contoh terbaik untuk tuntunan moral dan spiritual. Mereka mengajak manusia kepada Allah dengan cara : menyampaikan wahyu Tuhan kepada manusia dan juga menampilkan sunnah (contoh) suci dan kebajikan mereka. Merekalah sebenar-benarnya manusia. Hati mereka dipenuhi kecintaan kepada Allah dan ciptaan-Nya. Mereka semua menyatakan ke-Esa-an Allah dan mengajak orang untuk menyerahkan diri kepada-Nya dengan seutuhnya.

T – Siapakah pemimpin para Nabi ?

J – Muhammad saw adalah pemimpin para Nabi. Ia adalah Khaataman-Nabiyyin, yaitu Meterai para Nabi. Ia membawa petunjuk Allah yang sempurna bagi kita. Ia datang sebagai rahmat bagi umat manusia. Ia adalah contoh yang terbaik. Ia menampilkan kasih sayang tidak hanya kepada manusia namun juga kepada hewan-hewan.

T – Sebutkan beberapa nama dari para Nabi Allah.

J – Adam as, Ibrahim as, Nuh as, Musa as, Daud as, Sulaiman as, Isa as, Ahmad as.

T – Kapan Nabi Muhammad saw lahir dan wafat ?

J – Beliau lahir tanggal 20 April 570 M di Mekkah – Arabia, dan wafat pada umur 63 tahun di Medinah. Beliau di makamkan di Medinah.

T – Ceritakan padaku mengenai Nabi Muhammad saw.

J – Muhammad saw adalah seorang yatim piatu, ia mendapat pendidikan dari kakeknya Abdul Muthalib dan kemudian oleh pamannya Abu Thalib. Abdullah adalah nama ayahnya dan Aminah adalah nama ibunya. Ibunya meninggal ketika ia berumur enam tahun. Muhammad saw berumur dua puluh lima tahun ketika menikahi Khadijah yang berumur empat puluh tahun. Dari Khadijah ia memiliki beberapa anak.

Muhammad saw dulu biasa menyepi untuk bermeditasi di gua Hira yang letaknya beberapa mil dari kota Mekkah. Saat berumur empat puluh tahun beliau menerima wahyu dari Allah yang mana ia telah dipilih sebagai Nabi yang tugasnya untuk memperbaharui umat manusia. Beliau memulai misi kenabiannya dengan pertentangan dari semua orang kecuali beberapa orang saja yang berpihak padanya. Bahkan mereka menganiaya beliau dan membunuh beberapa pengikutnya. Mereka mentertawakan serta mencemoohkannya ketika beliau berkata kepada mereka mengenai tugas sucinya. Bahkan keluarga serta sanak saudaranya berbalik menentang beliau. Ia terus menjalankan pekerjaannya dalam kondisi seperti itu sampai tiba saatnya Allah memerintahkan beliau dan jemaahnya untuk meninggalkan Mekkah dan hijrah ke Medinah.

Penduduk Mekkah sangat menentang beliau dan bahkan mereka tidak membiarkan beliau pergi meninggalkan kota. Beliau bersama pengikutnya yaitu sahabat karibnya Abu Bakr memutuskan untuk meninggalkan Mekkah. Dalam suatu kegelapan malam mereka meninggalkan Mekkah dan bersembunyi selama hampir tiga hari dalam sebuah gua yang disebut Thur. Selama hari-hari itu kaum Mekkah terus berusaha mencari jejak mereka. Setelah tiga hari beliau dan Abu Bakr memulai perjalanan mereka ke Medinah. Setelah menetap di Medinah, beberapa lama kemudian datang suatu berita bahwa kaum Mekkah telah mempersiapkan tentara untuk menyerang Medinah serta untuk menghancurkan Islam dan pendirinya. Nabi saw dan para pengikutnya sangat kuatir ketika mendengar berita itu, namun mereka menyerahkan sepenuhnya keselamatan mereka kepada Allah. Peperangan pertama yang dilakukan oleh Nabi saw dan pengikutnya adalah perang Badar, karena peperangan itu terjadi dekat sumber mata air yang disebut Badar. Nabi saw memiliki 313 pengikut untuk melawan kaum Mekkah yang memiliki lebih dari 1000 orang. Peralatan Kaum Mekkah sangat lengkap sedangkan Nabi saw dan para pengikutnya tidak mempunyai cukup makanan dan perlengkapan. Kaum Kafir akhirnya kalah di tangan kaum Muslim dan mundur dalam keadaaan kacau-balau.

Setelah perang Badar, beliau menghadapi beberapa perang lainnya untuk mempertahankan diri sampai akhirnya beliau memasuki dan menaklukkan kota Mekkah pada tahun 630 M dan terjadi gencetan senjata untuk sementara waktu. Nabi Muhammad saw wafat di Medinah dalam usia 63 dan dikebumikan di sana. Hazrat Muhammad saw adalah suri tauladan yang sempurna untuk kita semua. Allah berkehendak menjadikannya contoh bagi kita semua sehingga Dia telah membuat beliau melewati berbagai macam tahapan kehidupan manusia. Beliau menampilkan kebajikan kepada istri-istrinya, mengampuni musuh-musuhnya dan meletakkan dasar-dasar persamaan bagi manusia. Beliau adalah komandan pasukan dan merupakan jenderal yang ulung. Beliau patuh kepada yang lebih tua dan baik hati kepada yang muda.

T – Apakah kedatangan Nabi Muhammad saw telah disebutkan dalam kitab-kitab lain ?

J – Ya. Nabi Musa as telah bersabda kepada Bani Israil bahwa Tuhan telah mengabarkan kedatangan Nabi saw dalam kalimat berikut ini : “Seorang Nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara sudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya” (Ulangan 18:18). Ini adalah nubuatan tentang Nabi saw yang diucapkan oleh Nabi Musa as sekitar tahun 1451 SM.

T – Dimana kita dapat membaca riwayat hidup Rasulullah saw ?

J – Dalam Al-Quran Karim dimana peristiwa-peristiwa utama dari kehidupan beliau telah disebutkan oleh Allah Sendiri dan juga dalam kitab-kitab Hadits, kitab yang menuliskan perkataan dan perbuatan beliau. Ada enam kitab utama Hadits yaitu Bukhari, Muslim, Tirmizi, Ibnu Majah, An-Nisai dan Abu Daud.

Hari Akhirat (Kebangkitan dan Penghakiman)

T – Apa yang kamu ketahui mengenai Hari Akhirat ?

J – Pada Hari Akhirat kita akan dibangkitkan kembali oleh Allah dan akan diberikan kehidupan yang baru. Dia akan mengganjar sesuai dengan amal perbuatan kita di dunia ini. Barangsiapa yang melakukan perbuatan baik dan taat kepada Allah dan rasul-Nya akan dianugerahkan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan kedamaian abadi di Surga. Orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya serta menghabiskan hidup mereka dalam keaniayaan maka ganjarannya adalah hukuman di Neraka.

T – Berapa lama seseorang akan tinggal di Surga dan Neraka ?

J – Surga adalah tanpa akhir. Neraka adalah menyerupai rumah sakit, dimana para pasien mendapat pengobatan untuk penyakit ruhaninya dan tinggal untuk waktu yang terbatas. Mereka akan dipindahkan ke Surga setelah mendapatkan pengobatan atas penyakit ruhaninya. Oleh sebab itu Neraka adalah memiliki waktu yang terbatas.

T – Apakah dosa itu ?

J – Setiap perbuatan disengaja yang menentang perintah Allah adalah sebuah dosa.

T – Apakah setiap manusia membawa dosa bawaan ?

J – Tidak. Setiap anak yang baru lahir di dunia ini tidak berdosa. Dosa hanya ada ketika manusia dengan sadar dan sengaja menentang hukum Allah, oleh sebab itu ia disebut pendosa.

T – Apakah para Nabi Allah berdosa ?

J – Tidak. Tidak pernah. Mereka semua terbebas dari dosa (maksum). Para Nabi adalah orang yang paling taat kepada Allah. Mereka adalah contoh terbaik bagi manusia dan mereka diutus tidak untuk menentang hukum-hukum Tuhan.

T – Bagaimana kita dapat mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk ?

J – Dengan membaca Al-Quran dan Hadits Rasulullah Muhammad saw.

T – Dapatkah kamu memberikan beberapa contoh amal perbuatan baik ?

J – Ya. Dalam Al-Quran, Allah memerintahkan kita untuk : teratur dalam menjalankan shalat sehari-hari, menampilkan kepatuhan kepada orang tua dan orang yang lebih tua, berkata yang benar, bersikap ramah kepada tamu, mencintai Rasulullah Muhammad saw dan para sahabatnya serta berdoa bagi mereka, mengajak orang lain berbuat baik dan berhenti dari berkata yang sia-sia serta tidak membuang waktu kita untuk mengejar sesuatu yang tidak berguna.

T – Dapatkah kamu sebutkan beberapa amal perbuatan yang termasuk dosa besar ?

J – Berikut ini adalah yang termasuk dosa besar :

Mempercayai manusia sebagai sekutu Allah

Durhaka kepada orang tua

Mencuri

Memberikan kesaksian dusta

Fitnah

Menghasut orang

Tidak jujur

Berkhianat

Berzinah

LIMA RUKUN ISLAM

Rukun Islam ada lima :

Bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berziarah ke rumah Allah (Ka’bah).

Rukun Islam

T – Apakah prinsip-prinsip mendasar dalam Islam ?

J – Ada lima prinsip (rukun) dalam Islam :

Menyatakan kesaksian (syahadat) bahwa :

Tiada sesuatu yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya.

Menjalankan Shalat

Membayar Zakat

Menjalankan Puasa di bulan Ramadhan

Menjalankan ibadah Haji ke Mekkah

T – Apakah rukun Islam yang pertama ?

J – Rukn Islam yang pertama adalah menyatakan bahwa tidak ada apapun yang layak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya.

Sembahyang (Shalat)

T – Apakah rukun Islam yang ke dua ?

J – Rukun Islam yang kedua adalah kewajiban menjalankan Shalat

T – Berapa banyak kewajiban sembahyang dalam Islam ?

J – Ada lima kewajiban menjalankan shalat, yaitu : shalat Fajar (Shubuh), Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isha.

T – Kapan waktunya menjalankan shalat-shalat wajib itu ?

J – Shalat Shubuh (Fajar) adalah satu jam sebelum terbit matahari. Zuhur atau shalat siang dilakukan saat tergelincirnya matahari diatas kepala kita. Ashar atau shalat petang dilakukan dua jam sebelum terbenamnya matahari. Maghrib dilakukan segera setelah matahari terbenam. Isha atau shalat malam dilakukan setelah datangnya malam. Waktu-waktu shalat itu adalah kurang lebih demikian.

T – Apa yang dimaksud dengan shalat-shalat Nafal ?

J – Shalat ini adalah shalat pilihan (bukan wajib) yang dapat dilakukan kapanpun kecuali pada waktu-waktu yang terlarang untuk shalat nafal yaitu : Saat terbitnya matahari, saat matahari mencapai puncaknya (tepat diatas kepala kita), saat terbenamnya matahari, setelah shalat Ashar sampai Adzan Maghrib dan setelah shalat Shubuh sampai terbitnya matahari.

T – Disebut apakah orang yang memimpin shalat ?

J – Ia disebut Imam, yang arti harfiahnya adalah pemimpin.

T – Ada berapa jenis shalat dalam Islam ?

J – Ada tiga jenis shalat yaitu : Shalat Fardhu (Shalat yang wajib dijalankan karena adanya perintah Allah). Shalat Sunnah (Shalat yang dilakukan sebagai tambahan atau mengikuti shalat Fardu seperti yang dicontohkan secara teratur oleh Nabi Muhammad saw). Shalat Nafal adalah shalat pilihan seperti Tahajjud dll.

T – Manfaat apa yang dapat kita raih dari menjalankan shalat secara teratur ?

J – Al-Quran Karim mengatakan bahwa shalat yang teratur dapat mencegah perbuatan-perbuatan yang keji dan munkar. Shalat adalah sarana terbaik untuk penyucian diri. Shalat dapat membawa kita lebih dekat kepada Sang Pencipta dan membuat kita patuh kepada-Nya. Shalat membawa kedamaian dalam kalbu serta menghilangkan kekuatiran dalam hati kita. Shalat membuat hidup kita terarah dan teratur.

Zakat

T – Apakah Zakat itu ?

J – Zakat adalah suatu jenis pajak yang dibayar secara tunai atau dalam bentuk lainnya oleh orang Islam atas sejumlah harta minimum yang dimilikinya seperti uang, emas, perak atau binatang ternak dimana harta tersebut telah dimiliki selama satu tahun.

T – Berapakah tarif tahunan Zakat untuk uang, emas dan perak ?

J – Tarif tahunannya adalah dua setengah persen.

Puasa di bulan Ramadhan

T – Apakah puasa itu ?

J – Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum sejak terbit sampai terbenamnya matahari demi untuk meraih keridhaan Tuhan.

T – Dapatkah setiap orang menjalankan puasa ?

J – Ya, kecuali orang tidak sah/wajib untuk puasa (sakit, cacat, berhalangan dll), orang gila, anak-anak atau orang yang sedang dalam perjalanan. Namun barang siapa yang tidak menjalankan shalat karena sakit atau ketidak-mampuannya karena sebab tertentu atau karena sedang dalam perjalanan maka diharuskan berpuasa di hari lain sebanyak puasa yang ditinggalkannya. Barang siapa yang tidak mampu menjalankan puasa selama bulan Ramadhan maka ia harus memberikan makan fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan selama bulan puasa tersebut.

T – Apakah nama bulan diwajibkannya berpuasa ?

J – Bulan Ramadhan

T – Apakah kita harus berpuasa hanya dalam bulan itu saja ?

J – Kita dapat berpuasa kapan-pun kita suka sepanjang tahun. Bulan Ramadhan adalah bulan diwajibkannya kita berpuasa.

T – Apakah manfaat dari berpuasa ?

J – Puasa adalah baik bagi kesehatan jasmani dan ruhani kita. Puasa mengajak kita berdisiplin diri dan menambah kekuatan jasmani dan ruhani. Puasa mengukuhkan rasa simpati kemanusiaan kita. Adalah suatu kebajikan yang besar untuk menahan rasa lapar dan haus demi kemenangan untuk mendapatkan ridha Allah.

T – Apakah puasa sunnah yang dijalankan oleh Nabi Muhammad saw ?

J – Rasulullah Muhammad saw biasa menjalankan puasa sunnah sebagai berikut :

Puasa enam hari di awal bulan Syawal (bulan setelah Ramadhan)

Puasa tiga hari dipertengahan setiap bulan

Puasa pada hari ke sembilan di bulan Dzulhijjah

Puasa pada hari ke sembilan/sepuluh di bulan Muharram.

T – Apakah nama shalat sunnah berjemaah yang dilakukan selama bulan Ramadhan ?

J – Shalat itu dinamakan Tarawih. Terdiri dari delapan rakaat dan dilaksanakan setelah shalat Isha, namun dapat juga dilaksanakan kemudian di tengah malam.

T – Apakah I’tikaf itu ?

J – Seseorang yang dapat menghabiskan sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan dengan tinggal di mesjid disebut Mu’takif. Selama tinggal sepuluh hari di mesjid dan mempersembahkan seluruh waktunya hanya beribadah dan mengingat Allah disebut I’tikaf.

Ibadah Haji

T – Apakah ibadah Haji atau ziarah ke Mekkah itu ?

J –Adalah kewajiban bagi semua orang Islam yang mampu menjalankannya untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekkah paling sedikit sekali selama hidupnya.

T – Apakah Umrah itu ?

J – Umrah adalah suatu kunjungan ke kota Mekkah yang dapat dilakukan kapan saja dengan berpakaian Ihram untuk melakukan Thawaf (mengitari) di K’abah dan Sai (berlari-lari kecil) di antara bukit Shafa dan Marwah.

T – Kegiatan apa saja yang dilakukan saat Haji ?

J – Berpakaian Ihram dan mengalunkan Talbiyyah. Tinggal di padang Arafah dari sore hari sampai terbenamnya matahari pada tanggal 9 Zulhijjah. Menjalankan Thawaf dari tanggal 10 sampai dengan tanggal 12 Zulhijjah. Memotong hewan qurban pada tanggal 10 Zulhijjah.

T – Apakah Ihram itu ?

J – Ihram artinya berpakaian dengan menggunakan dua lembar kain tanpa jahitan. Ibadah Haji dan Umrah hanya dapat dilakukan dengan berpakaian Ihram. Perempuan tidak diperkenankan berpakaian Ihram.

T – Apakah Talbiyyah itu ?

J – Merupakan doa yang berulang-ulang dilakukan : “Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu Aku sambut panggilan-Mu, sesungguhnya tiada sekutu bagi-Mu, aku sambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, segala kenikmatan dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu”.

T – Apakah Thawaf itu dan bagaimana menjalankannya ?

J – Thawaf artinya mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali, dimulai dari posisi sebelah kanan Hajar Aswad (Batu Hitam). Pada setiap akhir putaran, kalau memungkinkan Hajar Aswad boleh dicium, dan kalau tidak memungkinkan, maka dilakukan secara simbolis saja.

T – Apakah Ka’bah itu ?

J – Ka’bah adalah suatu tempat yang sangat kuno yang ditetapkan untuk pertama kalinya di dunia ini sebagai tempat untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan. Ka’bah dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as sekitar empat ribu tahun yang lalu. Semua orang Islam di seluruh dunia menghadapkan wajahnya ke arah Ka’bah ketika melakukan shalat.

AHMADIYAH – SUATU KEBANGKITAN ISLAM

Aku datang untuk menyampaikan kebenaran Islam dan meyakinkan orang atas keindahan Islam, dan mengajak mereka kepada air mancurnya serta menyegarkan jiwa mereka dengan airnya. Aku tidak membawa hukum atau perintah baru. Al-Quran adalah ajaran terakhir dari hukum-hukum Ilahi dan Muhammad (shalallahu alaihi wa salaam) adalah rasul-Nya yang terakhir membawa syariat. Aku adalah utusan-Nya namun tanpa membawa syariat baru; dan aku adalah seorang rasul tanpa kitab; dan tujuan tunggal kedatanganku adalah untuk mengkhidmati Islam dan menyebarkannya serta membersihkan debu yang ada pada wajah cemerlangnya sebagai akibat dari pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam diri manusia selama hari-hari belakangan ini.

AHMAD DARI QADIAN

(Al-Masih yang Dijanjikan dan Mahdi)

Ahmadiyah

T – Apakah Ahmadiyah itu dan siapa pendirinya ?

J – Pergerakan Ahmadiyah dalam Islam didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian pada tahun 1889. Hal ini telah dinubuatkan (diramalkan) oleh Nabi Besar Muhammad saw bahwa ketika nilai-nilai moral dan spiritual mengalami kemunduran diantara orang Islam di akhir zaman, Al-Masih dan Mahdi akan hadir untuk menghidupkan Islam. Ia akan menampilkan Islam dalam keindahan dan kemurnian sesuai aslinya serta menjadikan Islam unggul diatas agama-agama lainnya. Ahmadiyah juga telah dinubuatkan oleh Nabi Muhammad saw bahwa melalui Masih Mau’ud (Al-Masih yang Dijanjikan) agama Islam akan tersebar di dunia Barat. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan dirinya bahwa ia adalah Al-Masih dan Mahdi sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.

T – Ceritakan lagi padaku tentang Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian.

J – Hazrat Mirza Ghulam Ahmad lahir pada tahun 1835 di Qadian (India). Ia berasal dari keluarga terhormat keturunan dinasti Mughal. Ayahnya adalah pemimpin di Qadian. Ia dilahirkan dalam zaman ketika hanya ada sedikit pendidikan yang tersedia. Tidak ada sekolah umum maupun akademi di kota-kota kecil di India. Ayahnya sangat ingin memberi pendidikan kepadanya sehingga ia mempekerjakan seorang guru bernama Fazli Elahi untuk mendidiknya. Dari gurunya ia belajar membaca Al-Quran dan sedikit belajar membaca buku-buku berbahasa Persia. Ketika berumur sepuluh tahun ia diajar tata-bahasa Arab dan beberapa buku lainnya oleh seorang guru bernama Fazi Ahmad. Ia juga mempelajari beberapa buku tentang pengobatan, logika dan filsafat dari seorang guru lain bernama Gul Ali Shah.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, ia diminta oleh ayahnya agar dapat bekerja di pemerintahan. Untuk mematuhi keinginan ayahnya, ia menawarkan dirinya untuk bekerja di kantor Wakil Komisaris di kota Sialkot. Namun kemudian ia menyadari bahwa pekerjaan ini tidak cocok dengan dirinya. Ia lalu mengundurkan diri dan kembali ke Qadian. Ia kemudian menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari Al-Quran, kitab-kitab Hadits dan literatur-literatur agama. Ia menyukai kesendiriannya dan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi serta menemukan keasyikannya dengan melakukan ibadah kepada Allah.

Ayahnya wafat ketika ia berumur lebih dari 40 tahun. Sebelum ditinggalkan oleh ayahnya, ia telah diperingatkan Tuhan melalui wahyu. Kematian ayahnya begitu menyakitkan serta membuatnya sangat sedih. Selagi ia memikirkan masa depannya setelah kewafatan ayahnya, terlintas dalam hatinya siapa yang akan memenuhi kebutuhannya (sebagai pengganti ayahnya). Kemudian diterimanya wahyu ini :

Apakah Allah tidak cukup bagi hamba-Nya ?

Wahyu ini sangat membesarkan hati dan ia diyakinkan bahwa Allah tidak akan membiarkannya menderita. Sejak permulaan dalam hidupnya, Hazrat Ahmad telah dihadapkan pada keadaan kaum Muslim yang sangat mengkuatirkan. Orang-orang Kristen dan Hindu sedang membuat serangan kotor kepada Pendiri agama Islam saw dan Al-Quran Suci. Bahkan kaum Kristen mengumumkan bahwa dalam waktu singkat panji Kristus akan dinaikkan di seluruh India dan Arabia. Disisi lain, kaum Muslim sedang mengalami hilangnya keyakinan dalam segala aspek spiritual. Masih Mau’ud (Al-Masih yang Dijanjikan) datang memecah salib untuk membela Islam. Ia banyak menulis buku-buku, pamflet dan selebaran untuk membela Islam serta membuktikan keunggulan Islam diatas semua ajaran agama lain. Buku pertamanya yang berjudul Barahin Ahmadiyah diterima oleh kaum Muslim dengan sangat antusias. Mereka menyebutnya sebagai Singa Islam. Kaum Kristen dan Hindu menjauhkan diri ketika menghadapi beliau dimanapun berada.

Hazrat Ahmad menikah dua kali dan mempunyai tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Dua anak laki-laki dan seorang anak perempuannya meninggal ketika masih kanak-kanak. Ia telah menubuatkan mengenai kelahiran seorang anak laki-lakinya yang sangat termasyhur yang telah lahir pada tanggal 12 Januari 1889 dan diberi nama Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad. Hazrat Ahmad membuka tantangan kepada para pengikut agama-agama lain untuk datang dan beradu argumentasi dengannya mengenai keunggulan Islam diatas agama-agama lain. Tidak seorangpun muncul. Ia dianugerahi mukjizat dalam menulis. Ia banyak menulis buku dalam bahasa Arab dan menantang para sarjana Arab untuk membuat karangan yang serupa dengan tulisan-tulisannya. Ia juga membawa ribuan nubuatan dimana banyak yang telah genap selama beliau hidup. Juga masih banyak nubuatan yang tergenapi setelahnya dan masih ada nubuatan lainnya yang belum tergenapi. Hazrat Ahmad menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani Islam. Ia adalah pejuang besar dalam Islam. Pengetahuannya mengenai Al-Quran sungguh menakjubkan. Ia memiliki keluasan ruhani dan pengetahuan agama yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya. Hazrat Ahmad wafat pada tanggal 25 Mei 1908 di Lahore dan beliau dikebumikan pada hari berikutnya di Qadian.

T – Siapakah penerus (Khalifah) Hz. Masih Mau’ud ?

J – Hz. Alhaj Maulvi Nuuruddin adalah Khalifah yang pertama. Hz. Alhaj Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad adalah Khalifah yang kedua. Hz. Hafiz Mirza Nasir Ahmad adalah Khalifah yang ketiga dan Hz. Mirza Tahir Ahmad sekarang adalah Imam Jemaat Ahmadiyah dan merupakan Khalifah yang keempat.

T – Ceritakan mengenai Hz. Maulvi Nuuruddin.

J – Hz. Maulvi Nuuruddin lahir pada tahun 1841 di Bhera (Pakistan). Ayahnya bernama Ghulam Rasul. Ia adalah seorang ulama besar yang menguasai bahasa Arab dan Persia. Ia telah menjelajah seluruh India dalam mencari ilmu. Ia juga pernah tinggal beberapa tahun di Mekkah dan Medinah ketika mempelajari ilmu-ilmu Hadits dan tentang keagamaan. Ia adalah seorang ahli pengobatan (tabib) yang handal dan merupakan tabib pribadi bagi Maharaja Kashmir untuk beberapa tahun lamanya. Ketika Masih Mau’ud wafat, ia kemudian dipilih sebagai Khalifah oleh semua anggota jemaat. Ia wafat pada hari Jumat tanggal 13 Maret 1914.

T – Ceritakan mengenai Hz. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad.

J – Ia adalah Khalifah yang kedua dan merupakan putera yang dijanjikan dari Hz. Masih Mau’ud. Ia lahir pada tanggal 12 Januari 1889 di Qadian. Setelah wafatnya Hz. Maulvi Nuuruddin, ia terpilih sebagai Khalifah Al-Masih yang kedua pada tanggal 14 Maret 1914. Hz. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad adalah seorang ulama besar dalam ilmu Al-Quran dan tafsirnya mengenai Al-Quran sangat khas. Ia adalah seorang ahli pidato. Ia juga seorang penulis yang ulung. Ia banyak menulis bermacam-macam buku hal-hal keislaman. Ia adalah seorang yang sangat cerdas. Ia mengorganisir anggota jemaat dengan keras dan disiplin. Pada waktu kepemimpinannya misi-misi Ahmadiyah didirikan di luar India. Ia wafat pada tanggal 9 November 1965.

T – Ceritakan tentang Hz. Mirza Nasir Ahmad

J – Hz. Hafiz Mirza Nasir Ahmad lahir pada bulan November tahun 1909. Ia mendapatkan pendidikan di India dan Oxford. Sebelum terpilih sebagai Khalifah, ia banyak berkhidmat dalam jemaah dengan berbagai macam jabatan. Ia adalah seorang pencinta alam. Pengetahuannya tentang Al-Quran dan Hadits sangat mengagumkan. Ia juga adalah seorang administrator yang baik. Ia menggagas Rencana Nusrat Jihan. Dalam rencana ini, banyak dibuka pusat-pusat pengobatan dan sekolah-sekolah menengah atas (SMU) di negara-negara Afrika Barat seperti Nigeria, Ghana, Sierra Leone, Liberia, Ivory Coast (Pantai Gading) dan Gambia. Ia wafat di Rabwah, Pakistan pada tahun 1982.

T – Siapakah pemimpin Gerakan Ahmadiyah dalam Islam sekarang ?

J – Ia adalah Hz. Mirza Tahir Ahmad. Ia lahir pada tanggal 18 Desember 1928 di Qadian, Punjab – India. Ia mendapatkan pendidikan pertamanya di Qadian. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Government College, Lahore – Pakistan.

Pada tahun 1955 ia pergi ke London dan belajar ilmu-ilmu Oriental dan Afrika di Universitas London. Ia kembali ke Pakistan pada tahun 1957. Sekembalinya, kemudian ia terpilih sebagai Ketua Majelis Khuddamul Ahmadiyah (Internasional) dan kemudian sebagai Ketua Ansharullah (Internasional). Ia telah berkhidmat dalam jemaat ini dengan berbagai macam jabatan sebelum terpilih sebagai Khalifatul Masih.

Hz. Mirza Tahir Ahmad adalah seorang ulama besar, ahli pidato yang ulung, penulis yang cemerlang dan seorang penuntun dalam masalah spiritual. Khutbah Jum’at-nya merupakan sumber insprirasi dan pengetahuan yang besar tidak hanya bagi anggota jemaat namun juga bagi orang-orang non-Ahmadi. Khutbah-khutbahnya dipancar-luaskan secara langsung ke seluruh dunia melalui radio, televisi dan jaringan-jaringan satelit.

Hz. Mirza Tahir Ahmad banyak melakukan perjalanan keliling dunia dan bertemu dengan para pemimpin negara, kaum intelektual bereputasi internasional, politisi, penulis dan jurnalis.

Baru-baru ini seorang penulis dari Inggris Mr. Ian Adamson telah membuat tulisan tentang riwayat hidup Hz. Mirza Tahir Ahmad. Judulnya adalah ‘A Man of God’. Pidato dan karangannya telah diberitakan secara luas dalam dunia pers internasional.

Al-Quran Suci telah diterjemahkan dalam 50 bahasa dunia dibawah kepemimpinannya. Ia juga merencanakan untuk menerbitkan Al-Quran Suci dalam 100 bahasa dunia. Ia telah meluncurkan suatu rencana untuk mengangkat masyarakat Afrika dan negara-negara lainnya di Dunia Ketiga. Hz. Mirza Tahir Ahmad menikah dan memiliki empat orang anak perempuan.

T – Apakah nama organisasi-organisasi utama yang ada dalam Jemaat Ahmadiyah ?

J – Jemaat Ahmadiyah memiliki beberapa asosiasi organisasi. Asosiasi perempuan dinamakan ‘Lajnah Imaillah’, yang terdiri dari dua bagian. Perempuan yang berumur sampai dengan 15 tahun disebut Nasiratul Ahmadiyah. Yang diatas 15 tahun disebut Lajnah Imaillah. Kaum lelaki dalam Jemaat dibagi dalam tiga asosiasi. Anak-anak yang berumur antara 8 sampai dengan 16 tahun dinamakan Athfalul Ahmadiyah. Yang berumur antara 15 sampai dengan 40 tahun disebut Khuddamul Ahmadiyah. Asosiasi ini adalah yang paling aktif dari antara tiga asosiasi laki-laki yang ada. Asosiasi organisasi kaum lelaki yang berumur diatas 40 tahun disebut Ansharullah.

T – Dimanakah misi Islam Ahmadiyah yang pertama kali didirikan diluar benua Indo-Pakistan ?

J – Misi yang pertama didirikan diluar India adalah di London yang direalisaskan pada tahun 1914 oleh Hz. Chaudhri Fateh Muhammad Sial, mubaligh pertama Ahmadiyah di Inggris. Pada tahun 1924, Mesjid London dibangun oleh Jemaat Ahmadiyah yang seluruh dananya dibiayai oleh kaum perempuan anggota Jemaat. Misi di London telah mendapat kehormatan dengan dikunjungi dua kali oleh Hz. Khalifatul Masih II dan delapan kali dikunjungi oleh Hz. Khalifatul Masih III selama masa Khilafatnya. Misi di London juga menerbitkan majalah bulanan bernama Muslim Herald.

T – Berapa banyak misi-misi Ahmadiyah di seluruh dunia ?

J – Ada banyak misi-misi Ahmadiyah, diseluruh Afrika Barat dan Timur, di Singapore, Indonesia, Jepang, Filipina, Malaysia, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Jerman, Swiss, Spanyol, Denmark, Swedia dan Mauritius. Juga tersebar Jemaat Ahmadiyah di 120 negara di dunia ini.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

ahmadiyyah menjawab kebohongan amin jamaluddin


Berbagai aliran Islam Radikal dan Wahabiyyah sudah terbiasa menggunakan kiat-kiat untuk mengelabui dan membohongi masyarakat dalam  menyebarluaskan paham-paham radikalnya, khususnya yang berkaitan dengan Ahmadiyah.  Amin Jamaluddin dengan tulisan-tulisan anti Ahmadiyah-nya yang tersebar di berbagai buku dan situs internet dengan mudah dapat kita lihat, tulisan-tulisannya itu sangat bersifat tendensius dapat menimbulkan perpecahan dan kebencian terhadap Jemaat Ahmadiyah. Bagi seorang Ahmadi atau orang yang pernah mengadakan penelitian tentang Ahmadiyah secara obyektif, mendalam dan tanpa su’uzhann maka sudah dapat dipastikan ia dapat menilai bahwa penjelasan-penjelasan Amin Jamaluddin tentang Ahmadiyah tersebut “benar-benar banyak sekali yang absurd” dan penuh manipulasi dan kebohongan.

Amin Jamaluddin nampaknya seorang pengikut Islam radikal, ia tahu persis bagaimana caranya agar umat Islam memusuhi dan antipati terhadap Ahmadiyah.  Amin Jamaluddin mula-mula menuduh Mirza Ghulam Ahmad as (Ahmadiyah) mengacak-acak Al-Qur’an, suatu tuduhan yang absurd jiddan. Rupanya Amin belum tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad as. itu adalah iqtibas[1], dimana iqtibas itu sendiri sangat lazim dilakukan oleh Rasulullah SAW, para Shahabat ra, para Imam Mujtahid, para ulama khawash Shufi, dan para pujangga dan penyair Muslim yang termasyhur. Walhasil, menurut penulis penjelasan-penjelasan Amin Jamaluddin tentang Ahmadiyah sangat berbahaya dan menyesatkan karena tidak melalui penelitian yang obyektif dan penuh prasangka serta tidak menggunakan ilmu-ilmu keislaman yang standar.

Ahmadiyah adalah satu Jamaah Islam Internasional non-politik dengan pengikut lebih dari 200 juta pengikut, tersebar di 190 negara, mempunyai media TV Internasional yang dinamakan MTA dan mengudara 24 jam nonstop tanpa iklan. Untuk menjangkau seluruh dunia Arab, MTA meluncurkan cannel 3 Al-‘Arabiyyah pada tahun 2007. Ahmadiyah memang berbeda sekali dengan Islam Fundamentalis ataupun Wahabiyah karena  Ahmadiyah tergolong kepada kelompok Islam moderat,  Jamaah Islam yang cinta damai ini tidak pernah menggunakan kekerasan dan paksaan dalam menyebarkan dakwah-dakwahnya. Adapun Islam radikal yang dibidani oleh Wahabiyah dalam dakwah-dakwah mereka penuh dengan keradikalan, kebencian, pemaksaan dan jika perlu bisa melalui jalan TERORISME atau bergabung bersama AL-QAEDA. Ketika kelompok Islam Fundamentalis lagi giat-giatnya menggembar-gemborkan mimpi tentang berdirinya Khilafah, ternyata Ahmadiyah sudah 100 tahun yang lalu menetapi Khilafah dan sekarang sudah memasuki era ke-5 masa-masa Khilafah mereka. Secara politis hal inilah yang dianggap sebagai batu sandungan bagi kelompok Islam radikal atau Islam fundamentalis.

Tulisan ringkas berikut ini merupakan jawaban-jawaban ringkas dan jitu untuk meluruskan beberapa penjelasan, kebohongan dan pendapat absurd dari Amin Jamaluddin.

Amin Jamaludin mengatakan:

“Jadi, inilah perbedaan keimanan yang sangat mendasar antara Ahmadiyah dengan orang Muslim. Sebab, bagi umat Islam, kata Muhammad dalam syahadat, adalah Nabi Muhammad saw yang lahir di Mekkah, bukan yang lahir di India. “

Jawab AHMADIYYAH

Demi Allah, Ahmadiyah tidak punya syahadat lain selain syahadat yang biasa diyakini dan diucapkan oleh umat Islam. Kebohongan dan waham Amin Jamaluddin tentang syahadat ini hanya akan menjadi bahan ketawaan orang-orang Ahmadiyah yang tahu persis persoalan ini. Bukankah  ada pepatah Arab yang mengatakan: “Shāhibul-bait adrā billadzī fīhi”[2] (Yang empunya rumah tahu tentang apa yang ada di dalam rumahnya). Amin Jamaludin sungguh sangat menggelikan, ia belaga tahu soal keyakinan dan hati orang-orang Ahmadiyah, lebih dari itu ia memaksakan syahadat versinya sendiri untuk diakui Ahmadiyah. Saya kira, sampai Amin Jamaluddin mati dan terkubur tanah sekalipun orang-orang Ahmadiyah tidak akan pernah meyakini sesuatu yang bukan keyakinannya. Bagi orang Ahmadiyah, paksaan dan kekerasan itu tidak akan membuat Islam jaya atau mulia, bahkan justeru dengan paksaan dan kekerasan wajah Islam yang indah dan damai akan menjadi rusak dan mengerikan.

Adapun mengenai sebutan-sebutan Muhammad, Ibrahim, Yusuf, Musa dan lain-lain dalam wahyu-wahyu non syari’at yang Allah SWT. berikan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. semuanya itu ‘alā tharīqah isti’ārah (berdasarkan konteks majaz isti’arah) dan bukan dalam kontek makna hakiki. Demikian ini dapat kita ketahui dengan jelas karena di dalamnya itu terdapat banyak ‘alāqah (pertalian) dan qarīnah (indikasi) yang mengarah kepada makna majazi (bukan sebenarnya). Saya sarankan agar Amin Jamaluddin belajar Ilmu Balaghah dulu agar mengerti masalah ini dan tidak bermain-main dengan permainan dan fitnah-fitnahnya. Amin Jamaluddin saya persilahkan bersumpah bahwa Ahmadiyah syahadatnya beda dengan umat Islam yang lain, nanti kita akan lihat hukuman Allah apa yang ditimpakan kepada pendusta.

Amin Jamaludin mengatakan:

Penjelasan Ahmadiyah ini juga tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam kitab Tadzkirah yang asli tertulis di lembar awalnya kata-kata berikut ini: “TADZKIRAH YA’NI WAHYU MUQODDAS”, artinya TADZKIRAH adalah WAHYU SUCI. Jadi, kaum Ahmadiyah jelas menganggap bahwa kitab Tadzkirah adalah “wahyu yang disucikan”. Karena itu, sangat tidak benar jika mereka tidak mengakuinya sebagai Kitab Suci. Sangat jelas, mereka memiliki kitab suci lain, selain al-Quran, yaitu kitab Tadzkirah.

Jawab AHMADIYYAH

Demi Allah, Ahmadiyah tidak menganggap bahwa Tadzkirah itu sebagai Kitab Suci. Amin Jamaluddin aga buta bahasa Arab barangkali, bukanlah yang tertulis di jilid Tadzkirah itu Wahyun Muqaddasun (Wahyu Suci atau Disucikan) dan Kitābun Muqaddasun (Kitab Suci atau Disucikan)? Kenapa Amin Jamaluddin ngotot dan memaksakan pemahamannya sendiri yang absurd itu kepada orang lain?

Coba Amin Jamaluddin perhatikan teori ilmu mantiq tentanga ‘Aks Qadhiyah Hamliyah berikut ini:

Semua Kitab Suci Yang diturunkan Allah itu pasti berisi Wayu Suci,

tapi tidak semua Wahyu Suci itu Kitab Suci (karena banyak Hadits Qudsi dan wahyu-wahyu yang turun kepada para wali yang bukan Kitab Suci),

Jadi, hanya sebagian Wahyu Suci saja yang menjadi atau masuk kepada Kitab Suci.

Dalam konteks ‘Aks Qadhiyah Hamliyah  inilah Ahamdiyah meyakini bahwa: TADZKIRAH BUKAN KITAB SUCI tapi hanya  WAHYU SUCI, Karena hanya Al-QUR’AN sajalah KITAB SUCI umat Islam sedangkan Ahmadiyah itu bagian yang tidak terpisahkan dari ISLAM  dan umatnya. Saya kembali tantang Amin Jamaluddin untuk bersumpah seperti saya mengenai Tadzkirah ini.

Amin Jamaludin mengatakan:

Tentu saja, umat Islam seluruh dunia menolak dengan tegas, bahwa setelah Nabi Muhammad saw, ada nabi lagi, atau ada orang yang menerima wahyu dari Allah SWT.

Jawab AHMADIYYAH:

Amin Jamaluddin dan segenap kaum Muslimin saya persilahkan untuk menyimak pernyataan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, seorang mujaddid Islam abad ke-9 Hijriah, seorang ahli tafsir dan hadits yang kitab-kitabnya jadi rujukan umat Islam:

“Ya, benar demikian. Muslim, Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan lain-lain meriwayatkan hadits dari Nawas bin Sam’an, Rasulullah bersabda: ……..bainamā huwa kadzālika idz auhallahu ila ‘isa ‘alaihis-salām “Sementara keadaan demikian Allah memberi wahyu kepada Isa bin Maryam”. Dalam hadits di atas Allah memberi wahyu kepada Isa as. setelah turun di bumi nanti, dan tampaknya yang menyampaikan wahyu malaikan Jibril as., bahkan pasti dia, karena memang itu tugasnya, sebagai duta utusan antara Allah dengan rasul-rasul-Nya, yang tak ada malaikat lain menyandang jabatan ini, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Na’im dalam kitab Dalāilun Nubuwwah”[3]

Orang yang berprasangka itu berkata, “tapi dalilnya adalah, ‘Tidak ada wahyu setelahku'”. Kami berkata, “Hadits ini dengan lafazh seperti ini adalah tidak benar”. Orang yang berprasangka itu berkata, “Dalilnya adalah hadits, ‘Tidak ada nabi setelahku'”. Kami mengatakan: Kasihan sekali engkau, tidak ada dalil pada hadits ini dari sisi mana pun, karena yang dimaksudkan oleh hadits ini adalah: tidak muncul setelahku seorang nabi dengan syariat yang menghapus syari’atku, sebagaimana yang ditafsirkan oleh para ulama.”[4]

Pada penjelasan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, seorang Imam Tafsir dan Hadits yang wawasan ilmunya begitu luas dan pengalaman spritualnya mencai dunia kasyaf Ilahi  itu terdapat kata-kata: “Kasihan sekali engkau”, demikian juga Ki Waras Jagat Pakuan berkata kepada Amin Jamaludin cs: Kasihan sekali engkau, terhadap masalah ini saja belum mengerti malah berani mengkafirkan Ahmadiyah yang pengucapkan dan meyakini dua kalimah syahadat.

Amin Jamaludin mengatakan:

Jadi, antara Islam dan Ahmadiyah memang ada perbedaan dalam masalah keimanan. Oleh sebab itulah, berbagai fatwa lembaga-lembaga Islam internasional sudah lama menyatakan, bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan. Kita berharap para pejabat dan cendekiawan kita tidak mudah begitu saja menerima penjelasan Ahmadiyah, tanpa melakukan penelitian yang mendalam. Sebab, tanggung jawab mereka bukan saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Kita hanya mengingatkan mereka, tanggung jawab kita masing-masing di hadapan Allah SWT.

Jawab AHMADIYYAH:

Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. tidak ada bedanya dengan Ahmadiyah karena Jemaat Ahmadiyah itu agamanya Islam, Rukun Islam dan Rukun Imannya persis sama dengan Rukun Islam dan Iman Rasulullah SAW. Fatwa lembaga-lembaga Islam Internasional sama sekali tidak bisa membuat Ahmadiyah jadi sesat atau kafir. Kita tahu bahwa lembaga-lembaga yang disebut Amin Jamaluddin itu adalah lembaga-lembaga yang berada di bawah “ketiak” Wahabiyah, sedangkan Wahabiyah berada di bawah “ketiak” Ibnu Sa’ud dan Ibnu Sa’ud dibawah “ketiak” Inggris dan Amerika,  dan akhirnya Amerika dan Inggris pun dibawah “ketiak” ISRAEL. Saya berharap kepada para cendekiawan Muslim untuk tidak mudah begitu saja menerima pendapat Amin Jamaluddin. Kepada pemerintah, penulis berharap agar dapat melindungi segenap elemen bangsa dari ancaman dan paksaan kelompok-kelompok radikal dan berhati-hati dalam menerima pengaduan-pengaduan dan tuduhan-tuduhan kelompok radikal yang ditujukan kepada Ahmadiyah. Ahmadiyah telah berdiri dan mengabdi kepada Bangsa Indonesia semenjak 1925, jauh sebelum terbentuknya MUI, FPI, MMI maupun HTI.

Amin Jamaluddin bukan hanya mengingatkan Ahmadiyah, akan tetapi berusaha terus memaksa Ahmadiyah agar bubar atau dibubarkan, suatu keinginan yang tidak dibenarkan oleh agama Islam sendiri, anti Pancasila, Demokrasi dan HAM.  Bahkan dalam Penyerbuan Kampus Mubarak pada Juli 2005 yang lalu ia termasuk salah seorang propokator penyerbuan dan sempat menjadi saksi dalam persidangan para penyerang di PN Cibinong. Semoga Amin Jamaluddin segera bertaubat dari perilaku-perilaku buruknya itu.

Bilakhir, Insya Allah aman dan makmurnya NKRI terletak pada penegakkan hukum yang tepat dan tegas serta penghormatan yang tulus terhadap nilai-nilai PANCASILA sebagai PERJANJIAN LUHUR BANGSA INDONESIA. Menurut terawang spiritual penulis; tanah, air, angin, dan api NKRI akan murka jika di dalamnya budaya cinta kasih dan kasih sayang terkubur oleh budaya radikalisme, barbarisme dan ketidak adilan..

*Penulis adalah seorang ex penganut Islam Radikal, pengamat Budaya Sunda,   dan alumnus Pesantren As-Salam Maja-Majalengka.



[1] Dalam Ilmu Badi, iqtibas didefinisikan sebagai berikut: An yudhammina al-mutakallimu mantsūrahu au manzhūmahu syai’an minal Qur’ani au al-hadiitsi ‘ala wajhi lā yus’iru biannahu minhumā. Artinya: “Pembicara menyimpan prosa atau puisinya dengan sesuatu dari Al-Qur’an atau Hadits dengan cara yang tidak memberikan isyarat bahwa sesuatu itu berasal dari keduanya.” Qaidah Ilmu Badi membolehkan mutakallim (pembicara) merubah sedikit pada kata yang diambil dari Al-Qur’an atau Hadits, yaitu karena untuk penyesuaian wazan atau sebab lainnya.

[2] Farāidul Adab (Al-Munjid), Darul Masyriq, Beirut, tahun 1986,  hal. 996

[3] Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Turunnya Isa bin Maryam Pada Akhir Zaman, terjemahan AK.Hamdi, CV.Haji Masagung, Jakarta, 1989, hal 46 � 47.

[4] Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Turunnya Isa bin Maryam Di Akhir Zaman, terjemahan Abdurrahim Ahmad,Najla Press, Jakarta, 2008, hal 90-91.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

NABI ISA YANG AKAN DATANG


HADITS-HADITS TENTANG KEDATANGAN NABI SESUDAH RASUL SUCI MUHAMMAD SAW اَنَّ لَهُ مُرْضِعًا فىِ الْجَنَّةِ وَلَوْعَاشَ لَكَانَ صِدِّيْقًا نَبِيًا. ( تاريخ ابن عساكر, جلد  ص  Artinya: Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, berkatalah ia: Tatkala wafat putra Rasulullah saw. yang bernama Ibrahim, anak dari istri nabi yang bernama Mariah Qibtiyyah, beliau sembahyangkan jenazahnya dan berkata: “Sesungguhnya di sorga ada pengasuhnya dan sekiranya usianya panjang, tentu ia (Ibrahim) akan menjadi seorang nabi yang benar”. Peristiwa wafat Ibrahim tersebut terjadi pada tahun kesembilan Hijrah, sedangkan ayat khataman nabiyyin turunnya pada tahun lima Hidjrah. Jadi ucapan beliau itu, beliau berikan empat tahun sesudah beliau menerima ayat khataman nabiyyin. Jadi sekiranya ayat khataman nabiyyin itu berarti kesudahan nabi,maka seharusnya beliau saw. berkata: sekiranya usianya panjang sekalipun, ia tidak akan bisa menjadi nabi, karena aku penghabisan nabi. Jadi jelas, bahwa Nabi saw. yang menerima wahyu tersebut tidak mengartikan khatam dengan kesudahan atau penghabisan. Sabda Rasulullah saw. itu dapat diberi kesimpulan sebagai berikut : 1. Nabi bisa datang sesudah beliau, 2. Putra beliau tidak menjadi nabi karena wafat dalam usia kecil 3. Anak beliau Ibrahim pasti akan menjadi nabi, jika usianya panjang. 4. Kemungkinan ada nabi tidak hanya lama sesudah wafat beliau, tetapi di masa yang sangat berdekatan dengan masa beliau. Dalam hadits Nawas bin Sam’an yang menceriterakan dengan panjang lebar tentang kedatangan Nabi Isa yang dijanjikan akan datang di akhir zaman, terdapat 4 (empat) kali perkataan Nabi : وَيُحْصَرُ نَبِيُّ الله ِعِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة) (Nanti Nabi Isa dengan sahabat-sahabatnya akan dikepung) فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة) (Nanti Nabi Allah Isa akan memanjatkan do’a kepada Allah) ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة) (Kemudian turunlah Nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya) فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيْس وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة) (Maka berdo’alah Nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya) (Muslim, Misykat, halaman 474) Dalam hadits Muslim tersebut, empat kali Rasulullah saw. menggunakan perkataan nabi terhadap Isa yang telah dijanjikan kedatangannya oleh beliau saw. sendiri di akhir zaman, sebelum hari kiamat. Maksudnya jelas Nabi saw. sendiri berpendirian, bahwa beliau bukanlah nabi yang penghabisan, karena Nabi Isa yang akan datang di akhir zaman, beliau saw katakan nabi juga. اَبُوْبَكْرٍ اَفْضَلُ هذِهِ اْلاُمَّةِ اِلاَّ اَنْ يَكُوْنَ نَبِيٌ. (كنوزالحقائق فى حديث خيرالخلائق ) Artinya : “Abu Bakar adalah orang yang lebih afdhal(mulia) dari antara ummat ini, kecuali apabila dari ummat ada yang berpangkat nabi”. Maksudnya terang, Abu Bakar yang berpangkat shiddiq itu adalah yang termulia di antara seluruh ummat Islam dan jika ada yang melebihi beliau, maka hanya seorang Islam yang berpangkat nabi. Sebab pangkat nabi itu lebih tinggi dari pangkat shiddiq.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TANDA-TANDA KEDATANGAN AL-MAHDI


Perang Iran-Irak

Akan ada huru hara di bulan Syawal (bulan kesepuluh dalam kalender Hijriyah), pembicaraan tentang perang di bulan Dzulqa’dah (bulan kesebelas dalam kalender Hijriyah) dan pecahnya perang di bulan Dzulhijjah (bulan kedua belas). (Allamah Muhaqqiq Ash-Sharif Muhammad ibn ‘Abd al-Rasul, Al-Isaatu li Asrat’is-saat, hal. 166)

Tiga bulan yang dimaksudkan dalam hadits ini kebetulan bertepatan dengan bulan-bulan berkecamuknya Perang Iran Irak. Pemberontakan pertama atas Shah Iran berlangsung pada 5 Syawal 1398 (8 September 1976), seperti yang ditunjukkan oleh hadits ini, dan perang meletus antara Iran dan Irak pada bulan Dzulhijjah 1400 (Oktober 1980).

Hadits lain menjelaskan keterangan perang ini sebagai berikut:
Sebuah bangsa/suku akan datang dari arah Persia, dengan menyeru, “Kamu bangsa Arab! Kamu begitu bersemangat! Apabila Kamu tidak memberi hak mereka yang sebenarnya, tidak satu pun akan bersekutu denganmu … Hak itu harus diberikan kepada mereka satu hari dan kepadamu pada hari berikutnya, dan janji-janji kerja sama harus ditepati…! Mereka akan berangkat ke Mutekh; umat Islam akan turun ke lembah itu … Orang-orang musyrik akan berdiri di sana di tepi sebuah sungai hitam (Rakabeh) di sisi lain. Akan ada perang di antara mereka. Allah akan mencabut kedua pasukan itu dari kemenangan … (Al Barzeenji, Signs of the Judgment Day, p. 179)

– Bangsa yang datang dari arah Persia: bangsa yang datang dari wilayah Iran
– Persia: Iran, orang-orang Iran
– Turun ke lembah: Lembah, Lembah Iran
– Mutekh: Nama sebuah gunung di wilayah itu
– Rakabeh: Wilayah tempat sumur-sumur minyak terpusat

Hadits ini menarik perhatian karena pecahnya perselisihan rasial yang akan menyebabkan kedua belah pihak turun ke lembah (Lembah Iran) dan terjadinya perang. Kemudian, seperti yang dicatat di hadits ini, Perang Iran Irak berlangsung selama 8 tahun, dan walaupun ribuan korban telah berjatuhan, tetapi tidak satu pun pihak dapat menyatakan kemenangan atau keunggulan yang mutlak.

Berhentinya aliran sungai Eufrat

Berhentinya dan terganggunya aliran sungai Eufrat merupakan salah satu tanda kedatangan Al Mahdi.
Segera sungai Eufrat akan memperlihatkan kekayaan (gunung) emas, maka siapa pun yang berada pada waktu itu tidak akan dapat mengambil apa pun darinya. (HR Bukhari)

Sungai itu (Eufrat) akan memperlihatkan sebuah gunung emas (di bawah sungai itu). (Abu Daud)

Berbagai buku hadits menyebutkan kedua peristiwa ini. Al-Suyuti menyebutkan hadits ini sebagai ‘berhentinya air.’ Sebenarnya Bendungan Keban telah menghentikan aliran air sungai ini. Tanah sekitarnya telah menjadi sama nilainya dengan emas karena berbagai alasan, seperti dihasilkannya aliran listrik dan begitu suburnya tanah pertanian melalui fasilitas irigasi dan transportasi sejak bendungan itu dibuat. Bendungan ini menyerupai gunung betun, dan kekayaannya senilai emas yang keluar dari sungai itu. Oleh karena itu, dam ini menyerupai sifat-sifat ‘gunung emas’ (Allah-lah Yang Maha Tahu).

Gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan

Ada dua tanda untuk kedatangan Al Mahdi … Yang pertama adalah gerhana bulan di malam pertama Ramadhan, dan kedua adalah gerhana matahari di pertengahan bulan ini. (Ibn Hajar al-Haythami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi `Alamat al-Mahdi al-Muntazar, hal. 47)

Akan ada dua gerhana matahari di bulan Ramadhan sebelum kedatangan Al Mahdi. (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)

… Gerhana matahari di pertengahan bulan Ramadhan dan gerhana bulan di akhirnya …. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, h. 37)

Telah sampai kepadaku bahwa sebelum Al Mahdi datang bulan akan gerhana dua kali di bulan Ramadhan (Diriwayatkan oleh by Abu Nu’aym in al-Fitan)

Yang menarik di sini adalah, tidak mungkin akan ada dua gerhana matahari dan gerhana bulan dalam satu bulan. Hal ini tidak dapat terjadi pada keadaan biasa. Akan tetapi, sebagian besar tanda-tanda Hari Akhir merupakan peristiwa-peristiwa yang dapat dijangkau dan diwujudkan oleh pikiran manusia, dan tergantung pada alasan tertentu.

Apabila peristiwa-peristiwa ini dianalisis lebih lanjut, sejumlah perbedaan menjadi jelas. Yang terbaik dilakukan dalam keadaan seperti ini adalah menentukan hal-hal yang menjadi kesepakatan. Dugaan yang ada adalah sebagai berikut: akan ada gerhana matahari dan bulan selama bulan Ramadhan. Keduanya akan berjarak sekitar 14-15 hari dan gerhana-gerhana ini akan berulang dua kali.

Sejalan dengan perhitungan ini, ada sebuah gerhana bulan pada tahun 1981 (tahun Hijriyah 1401) pada hari ke-15 bulan Ramadhan dan gerhana bulan pada hari ke-29 pada bulan tersebut. Ada pula sebuah gerhana bulan “kedua” pada tahun 1982 (tahun Hijriyah 1402) pada hari ke-14 bulan Ramadhan dan gerhana matahari pada hari ke-28 pada bulan tersebut.

Ini juga penting, terutama karena dalam contoh khusus ini, akan ada sebuah gerhana bulan penuh di pertengahan bulan Ramadhan, sebuah ramalan yang paling mendekati kebenaran.
Kejadian peristiwa-peristiwa ini selama kurun waktu yang sama bertepatan dengan tanda-tanda kedatangan Al Mahdi. Hal tersebut, beserta kejadian ulangannya yang menakjubkan di permulaan abad keempat belas Hijriah selama dua tahun berturut-turut (1401-02), menjadikan kejadian-kejadian ini mungkin adalah tanda-tanda yang disebutkan oleh hadits.

Munculnya sebuah komet

Sebuah bintang dengan ekor bercahaya akan muncul dari Timur sebelum munculnya Al Mahdi. (Ka’b al-Ahbar)

Sebuah komet akan muncul di Timur dengan mengeluarkan cahaya sebelum tiba. (Ibn Hajar al-Haythami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi `Alamat al-Mahdi al-Muntazar, hal. 53)

Munculnya bintang itu akan terjadi setelah gerhana matahari dan bulan. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, hal. 32).

Seperti yang disebutkan oleh sejumlah hadits,
Pada tahun 1986 (1406 Hijriyah), komet Halley melintasi bumi. Komet ini merupakan sebuah bintang terang bersinar yang melintas dari Timur ke Barat. Ini terjadi setelah gerhana matahari dan bulan pada tahun 1981 dan 1982 (1401-1402 Hijriyah).
Kejadian munculnya bintang ini dengan tanda-tanda lain kemunculan Al Mahdi menunjukkan bahwa komet Halley adalah bintang seperti yang dimaksudkan di hadits ini.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AHMADIYYAH MENGHAPUS SUATU KESALAH PAHAMAN


Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Al-Masih yang
Dijanjikan dan Mahdi

Beberapa anggota dari jemaatku yang hanya memiliki
pengetahuan sedikit mengenai pengakuan dan dalil dalilku
untuk mendukung mereka, serta tidak memiliki
waktu untuk mempelajari tulisan-tulisanku dengan
teliti dan juga tidak tinggal cukup lama bersamaku
untuk menyempurnakan pengetahuannya, adakalanya
mereka itu memberikan jawaban yang tidak sesuai
dengan kenyataan yang sebenarnya terhadap tuduhan
dari orang yang memusuhiku. Akibat yang tak
terhindarkan adalah, meskipun mereka sedang
berpijak pada jalan yang benar, mereka menderita pula
penyesalan dan kehinaan.

Baru-baru ini seorang Ahmadi dihadapkan pada suatu
keberatan yang kurang lebih dikatakannya bahwa ia
telah mengambil bai’at kepada seseorang yang
mengaku menjadi nabi dan rasul. Ia menjelasan
keberatan itu dengan sebuah sangkalan atas apa yang
aku dakwakan. Jelasnya, jawaban seperti itu adalah
tidak benar.
Yang sebenarnya adalah bahwa wahyu suci dari Tuhan
yang telah aku terima di dalamnya mengandung katakata
sebagai nabi dan rasul. Kata-kata tersebut ada di
dalam wahyu-wahyu yang aku terima bukan hanya
sekali atau dua kali, melainkan ratusan kali. Dalam
menghadapi wahyu-wahyu ini, bagaimana pula
jawaban itu dapat menjadi benar, bahwa perkataanperkataan
itu tidak pernah terjadi sama sekali?
Mengingat pada masa ini jika dibandingkan dengan
yang sebelumnya, kata-kata itu lebih sering terjadi
dengan cara yang lebih cemerlang.
Bahkan dalam Barahiin Ahmadiyya yang diterbitkan
sekitar 22 tahun yang lalu, kata-kata tersebut banyak
terdapat di dalamnya. Salah satu dari wahyu-wahyu
yang diumumkan dalam Barahiin Ahmadiyya sebagai
berikut:

HUWALLAZEE ARSALA RASOOLAHU BIL
HUDAA WA DEENIL HAQQI LIYUZHIRAHU
yaitu “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya
dengan petunjuk dan agama yang benar, guna
memenangkannya diatas agama-agama
lainnya.” (Lihat hal. 498)
Di dalam wahyu ini secara jelas aku telah dipanggil
dengan nama rasul. Juga di dalam kitab yang sama
terdapat wahyu lainnya:
JARIYALLAH FI HALALUL ANBIYAA yaitu
“Pahlawan Allah dalam pakaian nabi-nabi.”
(Lihat hal. 504)
Lagi, di dekat wahyu itu masih ada wahyu lainnya:
MUHAMMADUR-RASOOLULLAH
WALLAZEENA MA’AHU ASHIDDAA’ ‘ALAL
KUFFAARI RUHAMAA’U BAINAHUM yaitu,
“Muhammad Rasulullah dan orang-orang
yang besertanya keras terhadap orang-orang
yang ingkar (kuffar), tetapi lemah lembut di
antara mereka sendiri.”

Dalam wahyu ini, aku telah dipanggil dengan nama
Muhammad dan rasul. Kemudian lagi pada halaman
557, kita temukan wahyu:
DUNYA MAIN AIK NAZEER AAYA yaitu “Di
dunia telah datang seorang nadzir (yaitu
orang yang memberi kabar pertakut).”
Dan dalam satu qira’at yang lain: DUNYA MAIN AIK
NABI AAYA yaitu “Di dunia telah datang seorang
nabi.”
Sama halnya di beberapa tempat lainnya dalam kitab
Barahiin Ahmadiyya aku telah disebut sebagai nabi
dan rasul.
Jika dikatakan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah
KHAATAMAN NABIYYIIN (Meterai sekalian nabi),
maka bagaimana bisa datang seorang nabi setelah
beliau? Jawaban untuk ini adalah, tentu saja, tidak ada
nabi baru atau lama yang dapat datang dalam arti
sebagaimana yang kamu percayai mengenai
kedatangan Nabi Isa a.s. (Yesus Kristus) dan kamu juga
mempercayai kenabiannya serta kesinambungan
wahyu yang diterima olehnya selama 40 tahun, lebih
lama waktunya dari masa kenabian Rasulullah s.a.w.
mendapat wahyu. Tidak diragukan lagi, kepercayaan
dan akidah semacam itu memang durhaka betul. Dan
ayat Al-Qur’an: WA LAAKIR RASOOLULLAHI WA
KHAATAMAN NABIYYIIN yaitu “akan tetapi ia
adalah seorang Rasul Allah dan Meterai para nabi”
serta Hadits LA NABIYYA BA`DEE yakni, “tidak ada
nabi sesudah aku [Muhammad s.a.w.]” – adalah bukti
yang sempurna atas dusta dan kelirunya kepercayaan
itu. Tetapi aku menentang keras kepercayaan itu dan
percaya sepenuhnya kepada ayat Al-Qur’an: WA
LAAKIR RASOOLULLAHI WA KHAATAMAN
NABIYYIIN.
Dalam ayat ini tersimpan satu nubuatan yang luput
dari perhatian orang-orang yang menentangku. Adalah
setelah diutusnya Nabi Suci s.a.w. ini, maka anugerah
kenabian dari Tuhan akan tetap disembunyikan
sampai hari akhir di dunia ini. Tidaklah mungkin bagi
seorang manusia pun, apakah ia seorang Hindu,
Yahudi, Kristen atau seseorang yang disebut Muslim
untuk membenarkan penggunaan sebutan nabi bagi
dirinya sendiri. Semua pendekatan kepada sebutan
agung itu telah tertutup, kecuali satu, yaitu sirat-isiddiqui
[jalan shiddiqiya] yang sama artinya dengan
meleburkan diri secara sempurna dengan penuh
kecintaan kepada Rasulullah s.a.w. Dengan demikian,

dia yang mencari kedekatan Tuhan melalui cara itu,
akan dianugerahi jubah kenabian, yang tidak berarti
apa pun kecuali sesuatu yang berasal dari milik
kenabian Muhammad s.a.w. sendiri. Pendakwaan
kenabian seperti itu tidaklah menyalahi kenabian
Muhammad, hal itu dapat terjadi karena kenabiannya
bukanlah secara mandiri atau pun berasal dari
hidupnya sendiri. Ia mendapatkan semua kebaikan
dalam dirinya bukanlah berasal dari dirinya sendiri
melainkan dari Rasulullah s.a.w., sumber mata air
semua rahmat. Oleh sebab itu kedudukannya sebagai
nabi bukan untuk keagungan dirinya sendiri melainkan
untuk kemuliaan dan kejayaan Nabi Muhammad s.a.w.
Itulah sebabnya mengapa ia dikenal di langit sebagai
Muhammad dan Ahmad.
Walhasil ialah, bahwa kenabian Muhammad s.a.w.
bagaimanapun juga kembali lagi kepada Muhammad
s.a.w. dan tidak kepada orang lain. Seseorang yang
mendakwakan kedudukan ini harus menyatakan
semua kualitas yang ada pada dirinya adalah cerminan
bayangan (buruzi) dari Muhammad s.a.w. dan ia
mengakui berhutang budi kepadanya. Dengan
demikian ayat: MAA KAANA MUHAMMADUN ABAA
AHADIN MIR RIJAALIKUM WA LAAKIR
RASOOLULLAHI WA KHATAM-AN NABIYYEEN

yaitu “Muhammad bukanlah bapak salah seorang
diantara laki-lakimu akan tetapi ia adalah Rasul
Allah dan meterai sekalian nabi” – dapat ditafsirkan
dengan: LAISA MUHAMMADUN ABAA AHADIM
MIR RIJAALUD DUNYAA WALAAKIN HUWA ABUR
RIJAALUL AAKHIRATI LIANNAHU KHAATAMAN
NA- BIYYEENA WA LAA SABEEL ILAA
FAYOODULLA MIN GHAIRI TAUSATUH yaitu
“Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang laki laki
di dunia ini akan tetapi ia adalah bapak bagi laki laki
di alam akhirat karena ia adalah khaatamannabiyyiin
dan tidak ada jalan untuk memperoleh
karunia-karunia Tuhan kecuali melalui
perantaraannya.” Singkatnya, kenabianku ini adalah
karena dijadikannya aku Muhammad dan Ahmad, dan
[ini] bukan karena keinginanku sendiri: Aku telah
menerima kedudukan [nama] ini karena peleburan
diriku yang sempurna bersatu dengan Nabi
Muhammad s.a.w. [fana fir-rasul], dan oleh karena itu
makna KHAATAMAN NABIYYIIN (Meterai sekalian
nabi) sama sekali tidak terganggu dengan
kedudukanku ini. Namun kedatangan seorang nabi
yang mandiri seperti Nabi Isa a.s. (Yesus Kristus)
pastilah akan menjadi berbeda artinya dengan makna
itu.Harus pula diingat bahwa perkataan nabi itu secara
harfiah berarti orang yang menyatakan mendapat
pengetahuan tentang khabar ghaib dari Tuhan. Di
mana pun definisi ini masih tetap berlaku, di sini pula
dituntut akan adanya seorang nabi, dan seorang nabi
semestinya haruslah seorang rasul. Jika ia bukan
seorang rasul, maka khabar ghaib yang bersih tidak
dapat dilimpahkan kepadanya karena menurut ayat ini
dinyatakan sebagai berikut: LAA YUZHARA ‘ALAA
GHAIBIHI AHADAN ILLAA MANIRTADAA MINAR
RASOOL yaitu “Allah tidak membukakan rahasiarahasia-
Nya kepada siapa pun juga kecuali kepada
rasul-Nya.” Jika kita mempercayai bahwa tidak ada
nabi yang akan dibangkitkan setelah Nabi Muhammad
s.a.w. dalam arti bahwa ia akan bernubuat dan
mengatakan kejadian-kejadian masa depan, maka
dapat berarti tercabutnya wahyu dan kedekatan
dengan Tuhan dalam umat Nabi Muhammad s.a.w.,
karena definisi nabi hanya dapat digunakan kepada
seseorang yang melaluinya rahasia-rahasia dari khabar
ghaib dilimpahkan kepadanya sesuai dengan ayat LAA
YUZHARA ‘ALAA GHAIBIH. Demikian juga dengan
seseorang yang diutus oleh Tuhan dinamakan sebagai
rasul.

Perbedaan di antara keduanya adalah, bahwa tidak
akan ada nabi yang membawa syari’at dapat datang
setelah Nabi Muhammad s.a.w.; demikian pula, tidak
seorang pun dapat meraih pangkat kenabian tanpa
melalui perantaraan Nabi Muhammad s.a.w. dan ia
menyatukan diri seutuhnya kepada wujud Nabi
Muhammad s.a.w. [fana fir-rasul] sehingga ia di langit
dikenal sebagai Muhammad dan Ahmad. Ia yang
mendakwakan diri sebagai nabi tanpa memenuhi
syarat-syarat ini adalah seorang kafir. Arti dari
ungkapan KHAATAMAN NABIYYIIN (Meterai
sekalian nabi) menuntut bahwa selama adanya usaha
pemisahan diri dari Nabi Muhammad s.a.w. sehalus
apa pun, siapa pun yang kemudian mendakwakan
menjadi nabi akan dijuluki sebagai orang yang
memecahkan (merusak) Meterai yang ada dalam
ungkapan KHAATAMAN NABIYYIIN (Meterai
sekalian nabi). Akan tetapi jika seseorang yang benarbenar
telah bersatu meleburkan dirinya dalam
“khaataman nabiyyiin,” menghilangkan usaha
pemisahan dirinya serta menjadi pantulan dari semua
keindahan dan kesempurnaan Nabi Muhammad s.a.w.
bagaikan cermin yang bersih, ia akan disebut nabi
tanpa memecahkan [merusak] Meterai milik Nabi
s.a.w., karena ia adalah cerminan gambar Muhammad
dan Muhammad sendiri dalam bentuk zhilli
[bayangan].
Jadi, meskipun seseorang mendakwakan menjadi nabi
serta mendapat sebutan Muhammad dan Ahmad
sedikit pun tidaklah bertentangan dengan martabat
dan kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai
KHAATAMAN NABIYYIIN (Meterai sekalian nabi)
karena melalui peleburan diri yang sempurna bersatu
dengan beliau s.a.w. [fana fir-rasul], ia menjadi cermin
dari Muhammad sendiri, gambar dirinya dan bahkan
menyandang namanya. Tetapi Yesus Kristus (Nabi Isa
a.s.) tidak dapat datang tanpa merusak Meterai milik
Nabi s.a.w. karena kenabiannya adalah suatu bentuk
kenabian yang berbeda. Dan, jika seorang pun tidak
dapat meraih kenabian meski dalam arti menjadi
buruzi [gambaran dan cerminan] Nabi Muhammad
s.a.w., maka bagaimanakah ayat berikut ini dapat
dijelaskan: IHDINASSIRAATAL MUSTAQEEM
SIRAAT ALLAZEENA AN’AMTA ‘ALAIHIM yakni
“tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu
jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat
kepada mereka” (QS. Al-Fatihah). Hendaklah diingat
bahwa aku tidak pernah ragu-ragu untuk
mendakwakan kenabian dan kerasulanku menurut
makna ayat itu. Adalah dalam makna ini pula Al-Masih
yang Dijanjikan telah disebut sebagai nabi dalam
Hadits Shahih Muslim. Jikalau seseorang yang
menyatakan mendapat khabar-khabar ghaib dari
Tuhan tidak berhak disebut sebagai nabi, maka dengan
nama apakah ia akan disebut? Anggapan bahwa kata
MUHADDATS adalah cukup untuk menjelaskan
kedudukan ruhani seseorang, tidaklah didukung oleh
kamus apa pun juga.
Kata TAHDITS dalam bahasa Arab di dalam kamus apa
pun tidaklah dijelaskan sebagai penguasaan dan
pernyataan atas [terbukanya] rahasia-rahasia khabar
ghaib; namun kata NUBUWWAT (Kenabian)
mensyaratkan adanya suatu penguasaan atas rahasiarahasia
khabar ghaib. Perkataan NABI adalah umum
digunakan dalam bahasa Arab dan bahasa Yahudi.
Dalam bahasa Yahudi kata NABI itu diambil dari kata
NABA yang artinya adalah anugerah atas nubuatan
[khabar ghaib] yang diterimanya dari Tuhan. Nabi
tidaklah mesti untuk mengemban atau membawa
Syari’at baru. Nabi hanyalah suatu anugerah Ilahi
yang mana rahasia-rahasia khabar ghaib diwahyukan
kepada seseorang. Jadi, ketika aku sendiri telah
menyaksikan sempurnanya penggenapan dari 150
buah khabar-khabar ghaib, maka bagaimana aku dapat
menolak untuk menyebut diriku sebagai Nabi atau
Rasul Allah? Allah Sendirilah yang telah memberikan
nama-nama ini; siapakah aku ini yang berani menolak
nama-nama itu atau mengapakah aku harus takut
kepada orang yang menentang Tuhan?
Aku bersumpah dengan nama Tuhan yang telah
membangkitkanku dan laknat-Nya akan jatuh
kepada dia yang mengada-adakan dusta atas
nama-Nya, bahwa Dia telah mengutusku
sebagai Al-Masih yang Dijanjikan (Masih
Mau’ud). Dan keyakinanku atas terang
benderangnya wahyu-wahyu yang aku terima
sedikit pun tidaklah mengurangi keteguhan
dan mengalahkan keyakinanku atas ayat-ayat
suci Al-Qur’an dan kebenaran akan wahyu yang
telah Tuhan berikan kepadaku menjadi sangat
nyata dengan diiringi tanda-tanda-Nya yang
telah Dia tampilkan secara berurutan. Dan
tidak ada sedikit pun keraguan padaku
bersumpah disisi Ka’bah atas nama Tuhan
bahwa wahyu suci yang diturunkan kepadaku
adalah merupakan firman Tuhan yang sama,
yang dahulu telah Dia turunkan kepada Nabi
Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan Nabi Muhammad
s.a.w. Bumi dan langit menjadi saksi atas
kebenaran pendakwaanku. Bumi dan langit
menyatakan bahwa aku adalah Khalifatullah
[Wakil Tuhan] di muka bumi ini. Namun,
sebagaimana telah dikatakan dalam nubuatannubuatan
yang terdahulu, aku tentu akan
ditolak oleh manusia. Orang-orang yang
hatinya tertutup tentu tidak akan menerima
aku. Tetapi aku tahu dan yakin bahwa Tuhan
akan menolong aku, sebagaimana dahulu Dia
selalu menolong rasul-rasul-Nya. Seorang pun
tiada yang dapat melawan aku, sebab bantuan
Tuhan tiada bersama mereka.
Kapan pun dan di mana pun aku telah menolak disebut
sebagai Nabi atau Rasul, hal ini hanya berarti bahwa
dengan mendapatkan karunia keruhanian dari
junjunganku yang mulia dan mendapatkan namanya,
aku telah dianugerahi pengetahuan mengenai khabarkhabar
ghaib. Tetapi aku ulangi lagi, bahwa aku tidak
memperkenalkan atau membawa Syari’at baru dan
aku tidak pernah menolak untuk disebut sebagai nabi
dalam makna ini. Malahan dengan makna inilah Tuhan
telah memanggilku dengan nama Nabi dan Rasul.
Bahkan sampai sekarang pun aku tidak menolak untuk
disebut sebagai Nabi dan Rasul dalam makna tersebut.
Perkataanku: MAN NAISTAM RASOOL-O-NIYAA
WARDA AMM KITAAB yakni aku bukanlah seorang
Nabi dan tidak membawa kitab, tidaklah mengandung
arti lain kecuali aku bukanlah seorang nabi yang
membawa Syari’at. Tentu saja, hal ini seyogyanya juga
harus diperhatikan dan jangan pernah dilupakan,
bahwa kendati pun aku disebut Nabi dan Rasul, Tuhan
telah memberitahukan kepadaku bahwa aku tidak
menerima semua karunia dan anugerah keruhanian ini
secara mandiri dan tanpa perantaraan seseorang.
Tidak; di sana yang tinggal di langit ada suatu wujud
suci (Nabi Muhammad s.a.w.) yang melalui dukungan
keruhaniannya semua karunia Tuhan telah
dilimpahkan kepadaku. Adalah melalui
perantaraannya dan setelah meleburnya seluruh
wujudku ke dalam Nabi Besar s.a.w. itu [fana fir-rasul]
dan telah dikenal sebagai Muhammad dan Ahmad,
memang aku ini adalah seorang RASUL dan NABI,
yaitu aku telah diutus dengan membawa misi dan telah
diberkati dengan kemampuan mengetahui khabarkhabar
ghaib. Dengan jalan inilah pendakwaan
kenabianku sedikit pun tidak mengganggu kedudukan
Nabi Muhammad s.a.w. sebagai KHAATAMANNABIYYIIN
(Meterai sekalian nabi), karena aku telah
mendapatkan nama itu hanya dengan mencerminkan
semua kesempurnaan Nabi Besar s.a.w. dalam diriku
dan dengan meleburkan diriku sendiri dengan penuh
kecintaan kepadanya.

Jika ada orang yang merasa tersinggung karena di
dalam wahyu-wahyu kepadaku ada menyebutkan
bahwa aku ini seorang NABI dan RASUL, maka orang
itu tiada lain kecuali seorang yang bodoh, karena
kenabian dan kerasulanku tidaklah
menyalahi/merusak meterai, segel atau cap yang
berasal dari Tuhan dengan cara apa pun juga. Jelaslah
bahwa ketika aku menyatakan bahwa Tuhan telah
memanggilku NABI dan RASUL dan para penentangku
memiliki kepercayaan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus
Kristus) akan datang ke dua kalinya dan menjadi
seorang nabi setelah Nabi Muhammad s.a.w., tentang
kedatangannya itu akan ada keberatan pula seperti
halnya yang dikatakan kepadaku, yaitu
merusak/mengganggu status Nabi Muhammad sebagai
Meterai para nabi. Namun, apa yang aku kemukakan
adalah, bahwa dipanggilnya aku sebagai NABI dan
RASUL dalam arti kata yang sebenar-benarnya,
setelah Nabi Muhammad s.a.w. yang adalah
KHAATAMAN-NABIYYIIN – tidaklah ada sesuatu pun
yang dapat menimbulkan keberatan dan tidak pula
kenyataan ini dalam cara apa pun yang dimungkinkan
dapat merusak/mengganggu kedudukan beliau s.a.w.
sebagai KHAATAMAN-NABIYYIIN.
Berkali-kali aku katakan bahwa menurut ayat Al-
Qur’an: WA AAKHAREENA MINHUM LAMMAA
YALHAQOO BEHIM yakni: “Dan juga kepada kaum
yang lain dari mereka yang yang belum berhubungan
dengan mereka” (62:3). Aku adalah cerminan gambar
sang KHAATAMAN-NABIYYIIN dan Muhammad
sendiri dalam bentuk buruz (bayangan). Dua puluh
tahun yang lalu sebagaimana tersebut dalam BRAHIIN
AHMADIYYA, Tuhan menamakanku Muhammad dan
Ahmad dan menyatakan kedatanganku menjadi
kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. sendiri. Oleh
sebab itu, kenabianku sama sekali tidaklah
bertentangan dengan status Nabi Muhammad s.a.w.
sebagai KHAATAM-AL-ANBIYYA karena bayangan itu
tidak dapat dipisahkan dari aslinya dan dalam makna
kiasan [inilah] aku adalah sama dengan Muhammad.
Adalah dengan cara itu Meterai/Cap dari
KHAATAMAN-NABIYYIIN tetap utuh dan
bayangannya beliau s.a.w. ada dalam diriku yang
memantulkan segala atribut dan kesempurnaan Nabi
Muhammad s.a.w. Seseorang yang telah mendakwakan
kenabiannya secara mandiri, dengan cara yang lain dan
terpisah dari beliau s.a.w. adalah tidak dapat
dibenarkan. Jika kamu menolak saya, maka kamu
menolak Hadits-Hadits dari Nabi Muhammad s.a.w.
yang mengatakan bahwa Mahdi yang Dijanjikan akan
menyerupai kekuatan fisik dan ruhani seperti
junjungannya sedemikian rupa, bahkan ia akan dikenal
dengan nama yang sama seperti nama yang dikenal
bagi Nabi Muhammad s.a.w. yaitu, ia akan disebut
dengan nama Muhammad dan Ahmad serta termasuk
dalam kalangan ahlul bayt nya. Hal itu juga telah
disebutkan dalam beberapa Hadits bahwa ia [Mahdi]
berasal dari [keturunan] saya [Rasulullah s.a.w.].
Hadits ini merupakan suatu indikasi yang kuat dari
suatu kenyataan bahwa ia (Mahdi yang Dijanjikan)
akan memperoleh bagian dari Nabi Muhammad s.a.w.
dan akan menjadi manifestasi beliau s.a.w. secara
ruhani.Pernyataan aku ini selanjutnya terlihat ditemukan
adanya kenyataan bahwa kata-kata yang digunakan
Nabi Muhammad s.a.w. untuk menandakan
hubungannya yang erat dan kesamaan beliau dengan
Mahdi yang Dijanjikan – Beliau s.a.w. menyebutnya
dengan namanya sendiri – jelas menunjukkan bahwa
Nabi Muhammad s.a.w. menganggap Pembaharu yang
Dijanjikan sebagai bayangan [buruz] beliau s.a.w.,
sebagaimana Yoshua adalah buruz Nabi Musa a.s.
Tidaklah mesti buruz ini memiliki suatu hubungan
darah, yaitu menjadi anak atau cucu, dengan orang
yang digantikannya. Sepanjang adanya pertalian
keturunan ruhani, hal itu merupakan suatu keadaan
yang penting bahwa ia seharusnya menjadi suatu
bagian dari orang yang digantikannya dan di antara ke
duanya harus ada suatu hubungan timbal balik yang
kekal dan saling berhubungan. Adalah sangat
merendahkan Nabi Muhammad s.a.w. [jika orang
berpikir] bahwa beliau telah mengabaikan aspek yang
berhubungan dengan buruzi-nya yang memiliki
pengertian yang jelas mengenai BURUZ (bayangan) itu
dan beliau mulai menekankan kenyataan bahwa
buruzi-nya merupakan cucu keturunannya. Padahal,
apakah hubungan antara cucu dengan buruz-nya? Jika
hubungan ini sangat penting bagi seorang BURUZ, lalu
mengapa Nabi Muhammad s.a.w. lebih suka memilih
cucu, suatu pertalian [darah] yang jauh; anak
seharusnya merupakan pilihan yang [lebih] alami.
Tetapi firman Tuhan benar-benar telah menghilangkan
kemungkinan Nabi Muhammad s.a.w. menjadi bapak
bagi lelaki mana pun juga dalam arti jasmani, namun
di sisi lain kedatangan seorang buruz telah
dikhabarkan. Seandainya tidak ada buruz Nabi
Muhammad s.a.w., lalu bagaimana murid-murid Orang
yang Dijanjikan ini dapat disebut sebagai para sahabat
Nabi Muhammad s.a.w. sebagaimana disebutkan
dalam ayat WA AAKHAREENA MINHUM dalam Al-
Qur’an? Dan jika kamu menolak kemungkinan
datangnya seorang buruz, berarti kamu mendustakan
ayat Al-Qur’an ini.
Orang yang hanya mampu menafsirkan suatu
pernyataan secara harfiah terkadang mengatakan
bahwa Orang yang Dijanjikan itu adalah dari
keturunan Hassan r.a. atau Hussain r.a., dan di waktu
lain adalah dari keturunan Abbas r.a. Akan tetapi, yang
dimaksud oleh nubuatan Nabi Muhammad s.a.w. itu
adalah demikian: bahwa dia (Orang yang Dijanjikan)
itu hanyalah akan menjadi ahli waris beliau s.a.w.,
sebagaimana anak menjadi ahli waris bapaknya. Ia
akan mewarisi kebesaran namanya, keutamaan
kedudukannya, keluasan ilmunya dan ketinggian
ruhaninya. Singkatnya, dirinya akan merefleksikan
segala aspek kemuliaan dan ketinggian pribadi Nabi
Muhammad s.a.w. Ia akan menganggap semua
kelebihan ini bukan berasal dari dirinya, melainkan
akan diakuinya sebagai pinjaman dari Nabi
Muhammad s.a.w. dan dengan meleburkan dirinya
secara sempurna kepada junjungannya, maka wajah
cantik junjungannya akan ditampakkannya kepada
dunia. Jadi, hanya dengan menjadi buruz Nabi
Muhammad s.a.w. sajalah, ia akan mewarisi namanya,
ilmu serta atribut keruhaniannya, dengan demikian ia
[juga] akan mewarisi pangkat kenabian beliau s.a.w.
Seorang buruz tidaklah lengkap jika ia tidak
menampilkan tiap keutamaan dan kesempurnaan
model aslinya. Karena nubuat itu merupakan atribut
dari seorang nabi, adalah sudah sewajarnya pula
buruzi-nya memiliki atribut [nubuat] sebagaimana
model aslinya. Dalam soal ini semua nabi telah sepakat
bahwa buruz [bayangan] adalah merupakan gambar
yang sempurna dari model aslinya sedemikian rupa,
sehingga pengganti yang datang akan dikenal seperti
nama yang sama seperti sebelumnya.
Jadi, jelaslah bahwa hanya dalam suatu pengertian
kiasanlah penggunaan nama Muhammad dan Ahmad
oleh seorang ahli waris ruhaniah, tidaklah
menunjukkan adanya dua Muhammad dan dua
Ahmad, demikian pula halnya dengan pendakwaan
kenabian sebagai buruz sekali-kali tidaklah merusak
kesucian Meterai/Cap dari KHAATAMAN-NABIYYIIN,
karena buruz itu tidak dapat dianggap berbeda dan
terpisah dari model aslinya. Dengan cara ini kenabian
Muhammad s.a.w. tetap bersama Nabi Muhammad
s.a.w. Para nabi sepakat bahwa tidak ada perbedaan
antara keduanya. Kedudukan BURUZ (bayangan) ini
digambarkan dengan sangat jelas dalam bait: MAN TO
SHUDM TOW MAN SHUDEE, MAN TAN SHUDAM
TO JAAN SHUDEE TAA KISS NAGWEED BA’D
AZEEN, MAN DEEGARAM TO DEEGAREE yaitu:
“aku menjadi engkau dan engkau menjadi aku. Aku
menjadi tubuh dan engkau-lah jiwa. Supaya tak
seorang pun mengatakan kemudian bahwa aku
berbeda dari engkau.” Akan tetapi, jika Yesus Kristus
(Nabi Isa a.s.) kembali ke dunia ini, ia tidaklah dapat
berbuat banyak tanpa mengganggu Meterai/Cap dari
KHAATAMAN-NABIYYIIN. Singkatnya, perkataan
KHAATAMAN-NABIYYIIN merupakan suatu
Meterai/Stempel Ilahi yang dicapkan di atas kenabian
Muhammad s.a.w. Adalah tidak mungkin bahwa cap
itu akan menjadi rusak. Namun, adalah sangat
dimungkinkan Nabi Muhammad s.a.w. dapat datang ke
dunia ini tidak hanya sekali atau dua kali bahkan
beratus-ratus kali dalam wujud seseorang yang
merefleksikan semua atribut Nabi Muhammad s.a.w.
dan menjadi cerminan atau buruz serta menampilkan
sifat-sifat beliau lainnya dalam dirinya. Ringkasnya,
ungkapan KHAATAMAN-NABIYYIIN juga merupakan
suatu Meterai/Stempel Ilahi pada kenabian.
Keadaan menjadi buruz-nya Nabi Muhammad s.a.w.
ini merupakan pangkat yang diberikan Tuhan,
sebagaimana terlihat dengan jelas pada ayat: WA
AAKHAREENA MINHUM LAMMAA YALHAQOO
BEHIM yaitu: “Dan juga kepada kaum yang lain dari
mereka yang belum berhubungan dengan mereka”
(62:3). Para nabi tidak pernah cemburu terhadap
buruzi-nya, karena buruz itu pada akhirnya adalah
cerminan rupa mereka dan membawa tanda
cap/stempel mereka. Namun, secara alami mereka
akan cemburu kepada yang bukan buruz-nya. Lihatlah!
Bagaimana Nabi Musa a.s. mengungkapkan
kecemburuannya dan tidak dapat menahan air
matanya ketika mengetahui Nabi Muhammad s.a.w.
telah melampaui [kedudukan/derajat] nya pada suatu
malam Mi’raj. Jadi, ketika Tuhan Sendiri berfirman
kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahwa tidak ada
seorang nabi yang akan datang setelah beliau dan
kemudian menyalahi janji-Nya dengan mengutus Nabi
Isa a.s. (Yesus Kristus) – bagaimana sedih dan
malunya Nabi Muhammad s.a.w. menghadapi
kenyataan ini. Singkatnya, kenabian dalam bentuk
buruz-nya Nabi Muhammad s.a.w., dalam cara apa pun
tidaklah bertentangan dengan kenabian Muhammad
s.a.w. dan juga tidak merusak martabat Nabi
Muhammad s.a.w. sebagai KHAATAMAN-NABIYYIIN
(Meterai para nabi). Akan tetapi, kedatangan seorang
nabi mandiri yang mendapatkan kenabiannya secara
mandiri [tidak berasal dari Nabi Muhammad s.a.w.]
akan meruntuhkan fondasi Islam. Hal ini akan

menodai Nabi Muhammad s.a.w., bahwa untuk
menyelesaikan tugas besar menghancurkan dajjal (anti
Kristus) akan dilakukan oleh Nabi Isa a.s., bukannya
oleh Nabi Muhammad s.a.w. Adanya kenyataan itu –
semoga Tuhan melindungi (na’udzubillah) –
menunjukkan kedustaan ayat: WALAAKIR
RASOOLULLAHI WA KHAATAMAN-NABIYYIIN
yaitu “dan ia adalah Rasulullah dan Meterai para
nabi” (33:40). Dan di dalam ayat ini ada suatu
nubuatan yang tersembunyi bahwa suatu cap/meterai
telah diletakkan di atas kenabian sampai hari kiamat
dan kecuali seorang buruz Nabi Muhammad s.a.w.,
tidak seorang pun akan dianugerahi rahasia-rahasia
Ghaib seperti [yang dianugerahi kepada] para nabi
Tuhan. Dan sebagaimana aku adalah Orang yang
Dijanjikan itu – yang ditakdirkan untuk menjadi
cerminan sempurna Nabi Muhammad s.a.w. dan
buruz-nya, untuk itulah kepadaku telah dikaruniakan
kenabian yang hanya [dalam bentuk] suatu BURUZ
(bayangan) dari Nabi Muhammad s.a.w. saja yang bisa
didapatkan. Sekarang, seluruh dunia tidak berdaya
untuk menghalangi jenis kenabian yang telah di
cap/meterai-kan ini. Seorang buruzi sejati Nabi
Muhammad s.a.w. telah ditakdirkan hadir di Akhir
Zaman dan ia telah hadir [untuk] menampilkan dalam
dirinya semua kesempurnaan dan keunggulan Nabi

Muhammad s.a.w. Saat ini, tidak ada jalan terbuka
yang masih tersedia untuk diminum kecuali melalui
pancuran mata air kenabian Muhammad s.a.w. ini.
Ringkasnya, kenabian yang seperti itu tidaklah
merusak Meterai/Cap KHAATAMIYAT. Akan tetapi,
datangnya Nabi Isa a.s. (Yesus Kristus) bukan hanya
merupakan suatu penolakan dari ayat: WA LAAKIR
RASOOLALLAHI WA KHAATAMAN-NABIYYIIN,
namun juga menyebabkan rusaknya Meterai/Cap itu.
Adanya ajaran [doktrin] yang jelas tidak masuk akal
dan tidak berdasar ini tidak mendapat dukungan dari
Al-Qur’an. Bagaimana doktrin ini dapat dimungkinkan
ketika kepercayaan yang seperti itu berlawanan dengan
ayat Al-Qur’an yang disebutkan di atas. Namun,
datangnya seorang nabi yang mempercayai
kenabiannya berasal dari Nabi Muhammad s.a.w.
adalah didukung oleh Al-Qur’an Suci dan ayat WA
AAKHAREENA MINHUM menjadi saksi bagi hal itu.
Ayat ini juga berisi suatu isyarat yang indah, di mana
ayat ini menyebutkan golongan [akhir] yang telah
dianggap sebagai Sahabat-Sahabat (Nabi Muhammad
s.a.w.), namun tidak dicantumkan secara khusus
bahwa melalui perantaraan buruz itu, yakni melalui
Masih Mau’ud, para muridnya dimasukkan di antara
golongan para Sahabat dan mereka [golongan akhir]

tidak dianggap seperti para Sahabat [awal] yang
mendapatkan bimbingan ruhani [langsung] dari Nabi
Muhammad s.a.w. Tidak adanya pencantuman ini
menunjukkan secara khusus bahwa buruz ini memiliki
keadaan ruhani yang bergantung pada Nabi
Muhammad s.a.w. dan kenabian serta kerasulannya
yang merupakan suatu pinjaman, tidaklah
mengganggu kedudukan Nabi Muhammad s.a.w.
sebagai KHAATAMAN-NABIYYIIN. Inilah sebabnya
mengapa ayat itu memperlakukan buruz itu dengan
tidak menyebutkannya dan membatasi penyebutannya
hanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. saja.
Demikian pula dengan ayat: INNA A’TAINAA KAL
KAUTHAR yaitu, “sesungguhnya Kami telah
menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah
kebaikan” – ada suatu nubuatan mengenai tampilnya
seorang buruz yang akan dimanifestasikan pada zaman
KAUTHAR (berlimpah-limpahnya kebaikan),
memang demikianlah, air mancur keruhanian yang
penuh berkah akan mulai mengalir dan kaum yang
beriman dalam Islam akan berlimpah jumlahnya.
Bahkan dalam ayat ini, penyebutan mengenai masalah
[keturunan] jasmani telah diabaikan dan yang telah
ditampilkan hanyalah suatu nubuatan mengenai
keturunan ruhani (dari Nabi Muhammad s.a.w.).

Walaupun Tuhan telah menganugerahkan kehormatan
ini kepadaku di mana mengalir darah Israil dan
Fatimah dalam pembuluh darahku, namun aku lebih
mengutamakan aspek hubungan ruhani dengan Nabi
Muhammad s.a.w.
Hubungan keruhanianku dengan beliau adalah suatu
hubungan seorang buruz (bayangan) dengan model
aslinya. Sekarang aku telah menjelaskan hal ini untuk
menunjukkan bahwa para penentangku yang bodoh
menuduhku karena aku mendakwakan memiliki
kenabian dan kerasulan yang berdiri sendiri. Aku tidak
pernah membuat pendakwaan seperti itu, dan juga aku
tidak menyatakan diriku menjadi seorang Nabi atau
Rasul dalam pengertian seperti yang biasa mereka
gunakan pada kata [nabi dan rasul] itu. Akan tetapi
aku adalah seorang Nabi dan Rasul dalam pengertian
yang telah aku jelaskan di atas. Demikianlah, orang
yang datang menuduhku dengan rasa dengki karena
aku mendakwakan memiliki kenabian dan kerasulan
seperti itu [berdiri-sendiri atau membawa Syari’at],
maka ia menurutkan hati dan pikirannya dalam suatu
kedustaan dan kekotoran. Aku adalah seorang Nabi
dan utusan Tuhan karena aku adalah cerminan dari
Nabi Muhammad s.a.w. serta buruzi-nya dan hanya
berdasarkan hal inilah Tuhan telah menamaiku Nabidan Rasul dalam bentuk BURUZ berkali-kali. Diriku
sendiri tidak ada. Diriku telah diliputi Nabi
Muhammad s.a.w. Itulah sebabnya aku dinamakan
Muhammad dan Ahmad. Jadi, kenabian dan kerasulan
Muhammad s.a.w. tetap beserta beliau dan tidak
dialihkan kepada orang lain.
MIRZA GHULAM AHMAD, Qadian, 5
November 1901.
Selebaran ini aslinya ditulis dalam bahasa Urdu dan
terbit pada tahun 1901. Selebaran ini telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Malik
Ghulam Farid, M.A. dan muncul dalam majalah
bulanan Review of Religions. Selebaran telah disalin
dari versi yang diterbitkan oleh Sadr Anjuman
Ahmadiyah, Qadian, pada tahun 1974.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SEORANG MUSLIM BERTINDAK MENURUT PRINSIP AL-QURAN DAN BUKAN PRINSIP MAJORITI


Salah satu sifat terpuji seorang Muslim yang beriman kepada ALLAH ialah tidak bertindak menurut pendapat dan prinsip majoriti sebaliknya mengutamakan sesuatu perkara yang dicintai ALLAH dan juga mengikut suara hatinya walau dalam apa keadaan sekalipun. Bagi individu sedemikian, kata-kata juga reaksi manusia lain tidak penting baginya. Seorang Muslim hanya menitikberatkan apa yang ALLAH redha dan matlamat terakhirnya ialah untuk mempamerkan akhlak terbaik sepertimana yang telah digariskan di dalam Al-Quran.

Kesempurnaan akhlak yang seharusnya dipamerkan oleh individu Muslim ini banyak dilihat pada kalangan rasul yang diutus ALLAH. Para rasul tidak peduli walau sedikitpun akan sikap dan gaya hidup yang ditonjolkan oleh orang-orang yang tidak beriman dan hanya patuh pada perintah ALLAH. Lantas, mereka terdedah kepada penindasan dan seksaan oleh orang-orang musyrik, yang mensyirikkan ALLAH hanya kerana para rasul ini beriman kepada ALLAH. Mereka turut berhadapan dengan ancaman bunuh; dipenjarakan, difitnah, diseksa dan dibuang dari tanahair mereka sendiri.  Mereka menghabiskan hayat dengan penderitaan dan ada yang syahid di jalan ALLAH.

Para rasul yang bertanggungjawab menyampaikan wahyu yang diturunkan oleh ALLAH seringkali menerima pelbagai ancaman namun mereka tidak pernah mengundur diri apatah mengalah hanya kerana kesukaran yang terpaksa dialami.

ALLAH menunjukkan kesempurnaan moral dan akhlak Muslim sejati dan juga para rasul dalam firmanNYA:

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan ALLAH, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). ALLAH menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali-Imran: 146)


Salah satu matlamat utama bagi seorang Muslim yang sangat mencintai ALLAH, sepertimana yang telah ditunjukkan oleh para nabi dan rasul, ialah tidak takut akan segala cemuhan oleh mereka yang tidak beriman sebaliknya hanya takut kepada ALLAH sehingga membawa kepada keredhaan ALLAH.

Bagi masyarakat yang tidak hidup berlandaskan pandua Al-Quran, perubahan dalam masyarakat ke arah bertentangan dengan aturan ALLAH akan berlaku. Manusia bertindak mengikut kebijaksanaan dan perasaan masing-masing secara berkelompok. Keadaan ini mendominasi kehidupan mereka. Sistem kehidupan mereka yang sedia ada digantikan dengan sistem yang lebih diterima masyarakat walaupun berbaur ketidakikhlasan dan dibuat-buat yang mungkin mereka sendiri sukar menerimanya. Inilah hasilnya apabila tidak melaksanakan undang-undang ALLAH dalam kehidupan.

Oleh kerana segala amalan dan perbuatan suatu masyarakat itu mudah menarik perhatian, lantas individu yang tidak menjadikan Al-Quran sebagai panduan hidup dengan mudah menutup sebelah mata dan bertindak mengikut golongan itu tanpa mempertimbangkan apa yang bakal mereka hadapi di akhirat kelak. Maka, selanjutnya terhasillah individu yang tidak penyayang, tidak jujur, pentingkan diri dan keuntungan semata-mata juga hilang rasa belas ihsan terhadap manusia lain. Individu sombong ini penuh dengan dendam, tamak haloba dan gemar menabur fitnah juga mencetus pergaduhan.  Walaupun mereka yang memilih jalan hidup sebegini mengalami kesengsaraan akibat daripada perbuatan mereka sendiri, mereka kekal dalam keadaan ini sepanjang hidup mereka oleh kerana manusia lain turut memilih cara hidup seperti mereka dan mungkin juga kerana menganggap telah ditindas, dikalahkan dan tiada tempat perlindungan. ALLAH menukilkan ini dalam firmanNYA:

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan ALLAH. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap ALLAH).” (al-An’am: 116)


Kenyataan inilah yang membedakan dengan orang-orang yang beriman. Seorang Muslim tidak akan mengambil bulat-bulat pendapat majoriti dengan harapan dapat membezakan yang mana baik dan yang mana buruk. Sebaliknya, Al-Quran dan Sunnah dijadikan panduan dalam setiap perkara. Jika ALLAH mentakdirkan suatu keadaan, yang mana pada dasarnya keadaan itu dilihat sebagai mengelirukan juga melanggar syariat, masyarakat seluruhnya pula mengamalkannya, hanya individu yang patuh dan beriman sahaja yang tidak akan mengikut perbuatan kelompok masyarakat ini. Cuma Muslim yang benar-benar taat sahaja memilih untuk patuh pada petunjuk Al-Quran dan Sunnah dan tidak akan melanggarnya. Individu ini beramal dengan petunjuk Al-Quran dan Sunnah pada setiap keadaan dan waktu. Walaupun ada individu lain yang cuba mempengaruhinya ke arah yang bertentangan, namun mereka yakin bahawa ALLAH sentiasa melindungi mereka selagimana mereka benar-benar melakukan sesuatu yang disukai ALLAH dan selari dengan petunjuk Al-Quran dan Sunnah. ALLAH berfirman: “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali-Imran: 139).

Jika seseorang Muslim itu tidak mengikut kepada prinsip-prinsip majoriti, tidak bermakna dia mengelakkan diri dan berpaling dari masyarakat juga melihat semuanya salah dan menyeleweng. Seorang Muslim akan sentiasa bijak menilai keadaan di sekelilingnya dengan panduan Al-Quran. Sebagai contoh, seorang individu yang mudah marah dan dalam masa yang mudah berkorban. Hanya kerana dia mudah marah, tidak bermakna kita terus menolak kualiti pada dirinya yang mudah mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain, apatah memandangnya sebagai individu yang berperibadi buruk seluruhnya. Seorang Muslim yang benar akan sentiasa menghargai setiap aspek yang berkualiti pada seseorang itu dan dalam masa yang sama membantu individu itu berubah kepada yang lebih baik dengan penuh hikmah dan lemah-lembut.

Seorang Muslim juga sentiasa rasional dan penuh semangat. Walaupun berada dalam suasana yang sukar dan terdedah kepada pelbagai kesusahan, dia sentiasa mencari hikmah dan keindahan dalam aturan ALLAH kerana dia yakin ALLAH akan memberi keindahan pada setiap perkara. Dia sentiasa sedar dan insaf bahawa hanya ALLAH yang mengatur segala agar dia mengambil iktibar dan takut padaNYA. Setiap keindahan yang diciptakanNYA juga adalah perlu untuk dia belajar dan mengambil pengajaran. Oleh yang demikian, seorang Muslim tidak seharusnya mengenepikan prinsip masyarakat secara sepenuhnya. Sebaliknya, Al-Quran dan Sunnah dijadikan panduan dalam setiap perkara dan belajar untuk menghargai segala keindahan pada aturanNYA.

Posted in Uncategorized | Leave a comment